Pagi buta, jam 5. Untuk buat anak kelas 9 sepertiku waktu
itu adalah waktu yang sangat sempit. Harus bisa mandi, pakai seragam, masak,
dan makan dalam waktu 45 menit. Karena kita akan menghadapi les jam ke-nol .
ARGHH nggak bisa nonton Sponge Bob!
Hari itu aku bangun telat, jam 05.15. Dan kelas les mulai
jam 6. Aku tambah panik gara-gara guru pebimbing di kelompokku hari ini adalah
guru terkiller. Namanya pak Wanto. Guru Matematika yang hobi banget nyita
sepatu berwarna, nyuruh murid tak berdasi dan tak ber kaos kaki official SMP
buat nyabut rumput di halaman sekolah. Apalagi yang telat wuuuhhh...
Aku langsung ngibrit ke kamar mandi. Dan mungkin kalau
kalian tahu gimana kelakuanku pas persiapan berangkat hari ini ya, pasti kamu
ngira kalau aku itu nggak mandi. Lha wong massa mandi cuma 3 menit, kayak mie
instan aja.
Untungnya, ibu ku ngerti suasana. Ibu ku udah nyiapin makan.
Huf selamat lah.
Pokoknya waktu itu, aku berangkat jam 05.50, hujan gerimis.
Kalau pake sepeda, itu nggak mungkin. Soalnya daerah jalan menuju sekolah itu
pasti jadi kayak bubur.
Ya sudahlah naik bus Semarang-Jepara. Ekspetasinya, pengen
berangkat cepet (pasti tahu lah, bus itu mesti ngepot-ngepot sukanya haha),
desak-desakan sama cowok ganteng, sama syukur-syukur kalau Tuhan ngasih berkah
pagi ini ya, gak bayar dan aku langsung cabut kabur aja karena kernetnya
bingung dengan isi bus yang desak-desakan.
Sayangnya ekspetasi hanya ekspetasi. Realita bicara kalo BUS
NYA NUNGGU ORANG, DAN ITU LAMAAA. Apalagi bus nya itu muterin Orkes Pantura.
Aku yakin, aku bakal dihukum di depan papan tulis sama pak Wanto. Syukur kalo
dihukumnya cuma ngerjain soal. Kalo push up atau sit up?
Setelah 8 menit bus nya diem, akhirnya jalan juga. Dan aku
cemas. Karena, kamu tahu kan, jarak 4 km itu nggak bakal bisa ditempuh kurang
dari 2 menit. Kecuali kalo kamu naik mobil F1.
Berharap nggak bakal ada hambatan, malah bus nya berhenti
lama lagi. MATI LOE!
Sampai lobi sekolah, jam sudah nunjukin 06.12. Aku lihat
anak cowok yang kayaknya juga masuk di kelompok A, kelompok les ku. Tapi aku
gak bisa lihat dia dengan jelas. Kan aku gak pakai kacamata waktu itu. Aku dan
dia senggolan di depan pintu kelas, sejenis nabrak. Bahuku sakit. Tapi bodo
amat. Pokoknya yang ada di pikiran cuma semoga pak Wanto berangkat lebih telat
dari pada kita berdua. Tapi...
Lihat kelas, sudah ada pak Wanto, dan aku telat sama cowok,
pasti hasilnya; takut dan malu. Untungnya aku bisa ngehadapi soal matematika
karena aku suka pelajaran ini. Kalau masalah aku telat sama cowok? Pasti di
ciye ciye in dan duduk bareng itu cowok. Malu lah.
Akhirnya aku sama cowok yang ternyata Sahid itu cuma
ditanyai masalah itu-itu saja. ‘kenapa kamu telat?’ dan ‘kamu kerjain bla bla
bla...’. Dan kita berdua beneran se meja. Duduk paling belakang dan di meja
depan ada pacar Sahid dan seorang cewek waktu itu.
“Tika, maaf ya. Aku pinjem cowokmu dulu ya hehe.” Aku konyol
seperti biasa.
“Hahaha iya iya, La.” Tika tertawa, Sahid kayaknya bingung
kalau nanti malam di sms sama Tika dan Tika marah marah. Aku menengok ke arah
Sahid. Dan aku cuma bisa diam dan mengambil kacamataku.
------
Iya. Itu dulu banget. Lama. Aku sudah sekolah di Kudus kelas
10. Sudah jadi anak IPA (sistem sekolahku emang pembagian jurusan sudah
dilakukan di semester 2). Dan minggu ini ada pentas seni dan konser ibaratSKAta
di sekolah temanku, Latif. Tapi sebenarnya, sekolah Latif ini seperti tempat
pindahnya anak SMPku menuju jenjang yang lebih tinggi. Tapi sekolahnya Latif
itu keren banget utnuk masalah musik, bagiku sih. Buktinya setiap tahun ngadain
lomba band se-Karesidenan Pati.
“Eh, bentar, La. Kucariin temenku. Kok nggak dateng yang?”
Latif mencari temannya. Aku belum tahu siapa. Di tempat yang dia lihat ada
banya kerumunan penonton, dan ada juga peserta lomba yang baru datang.
“Siapa sih, Tif? Doni? Dia kan ada di depan situ.”
“Enggak kok. Eh itu dia!”
“Siapa?” aku melihat ada yang datang menuju kita berdua. Dia
adalah...
“Eh, udah lama nunggu, Tif. Sorry ya telat.” Wajahnya aku
pernah kenal. Tapi aku masih lupa siapa dia.
“Kamu apa sih yang nggak telat? Aku sama Aquila nyari kamu
kemana-mana lho!”
“Hehe eh, Aquila.” Dia menyapaku. BENTAR... inikan, SAHID?

