Ini adalah cerpenku yang baru saja selesai setelah sibukkk banget mikir karya tulis (cuma mikir nih, gak ngetik-ngetik juga wkwk). Cerita ini bukan kisah nyataku, tapi kisah nyata sahabatku yang lagi FALL IN LOVE CIYEEE... Copas gak papa, dianjurin malah. Tapi tetep pake nama Elang Riyadi yaps. Mari membacaaa... cekidottt~
NEVER ENDING STORY
By: Elang Riyadi
“Kisah cinta semuanya sama. Hanya saja setiap orang
punya cara yang beda dalam kisahnya. Ini kisahku. Kamu, pasti punya kisahmu
sendiri.” --- Elang
Riyadi
Di balik
hutan yang rindang dan damai, ada kawah yang indah. Jarang sekali kawah itu
tersentuh hewan-hewan dari hutan. Mungkin karena terlalu indah? Atau mungkin
karena....?
Di hari yang
sangat tenang di kawah, tiba-tiba ada piring terbang yang mungkin gagal landas.
Dengan kecepatan yang amat sangat dahsyat, piring terbang itu terbakar karena
gesekan udara di atmosfer (tsaaah apaan dah).
Saat piring
terbang kurang sedikit mendekati kawah itu, jadi tak terkendali, semakin besar
kebakaran di piring terbang itu. Tetapi, karena kawah itu ada airnya, dan
piring terbang itu mendarat tepat di daerah kawah yang berair, api bisa padam.
Fyuuuh...
Lalu, ada
sosok wanita yang cantik kebingungan dan turun dari piring terbang yang hampir
dilalap api. Dia selamat, syukurlah. Tapi, apakah dia makhluk luar angkasa?
Yap, itu
Alien dari planet lain bernama F1N3-4. Dia sangat cantik, masih muda, rambutnya
rata sebahu, dia sepertinya punya kekuatan. Mungkin saja Bumi memang planet
primitif daripada planet lain yang kita semua belum tahu.
Dia menangis
karena dia sendirian jatuh ke Bumi, dan juga senang karena dia diselamatkan
oleh air yang ada di kawah yang indah itu. Dia merasakan sesuatu yang berbeda.
Dia memejamkan mata, merasakan kawah yang menolong piring terbangnya.
Masalalu tercium
oleh Alien cantik itu. Ternyata kawah ini adalah hasil tumbukan Teddy Bear
kesayangannya Alien saat masih kanak-kanak, yang akhirnya dibuang ayahnya lalu
berubah menjadi asteroid yang bertumbukan dengan hutan ini. Alien itu menangis
bahagia bertemu dengan kawah ini. Dia mencintai kawah yang indah ini. Hari demi
hari tidak terasa sepi karena kawah ini adalah boneka lamanya yang dia sayangi.
Suatu pagi,
saat Alien lapar sekali. Bekal makanan dari planet F1N3-4 sudah habis. Alien
memasuki hutan untuk mencari apa saja yang bisa dimakan. Dia menemukan bahan
makanan yang tidak beracun dengan mudah karena dia membawa alat pendeteksi
racun di sakunya. Dia mengumpulkan beberapa apel yang sudah matang untuk dibawa
ke kawah.
Saat
perjalanan pulang, Alien beristirahat lagi di lapangan yang luas dan sejuk. Tiba-tiba,
dia bertemu dengan spesies hewan Bumi, dia mencoba mendeteksi spesies apakah
hewan ini. Ternyata itu Siput yang jalannya lambat sekali, sepertinya itu Siput
yang hidup sebatang kara, pergi mencari ibunyaaa... (yaelah malah nyanyi Hachi
anak sebatang kara). Alien merasa kasihan dengan Siput yang tampan itu.
Kemudian dia mendekat dengan Siput. Dia menggunakan alat menerjemah bahasa
planet F1N3-4 menuju bahasa Siput di lehernya supaya dia seolah-olah berbicara
bahasa Siput.
“Kenapa kamu
berjalan sangat lambat? Sepertinya kamu sangat sedih?”
“Aku memang
begini, jalanku memang lambat. Punggungku berat. Lagipula, aku juga sendiri,
tak punya teman. Aku tak punya semangat hidup. Tapi, siapa kamu?” Alien
bertambah kasihan dengan Siput malang itu. Ada ide yang terlintas di benak
Alien cantik, ‘gimana, ya, kalau aku beri dia kekuatan supaya dia punya teman
dan tidak berjalan lambat lagi?’.
“Emm... aku
Alien dari planet F1N3-4. Aku terjatuh dari atas sana. Aku juga tidak punya
teman selain kawah sana. Mau gak jadi temanku, Siput?” Alien mencoba menghibur Siput,
dan usahanya berhasil. Siput itu tersenyum.
“Boleh,
Alien. tapi... apa syaratnya? Apakah ada syaratnya?”
“Umm... ada.
Kamu harus kuubah menjadi lebih cepat dan kuat. Bisa?”
“Baiklah.
Aku mau. Tapi bagaimana caranya.” Siput bingung harus melakukan apa. Alien
hanya tersenyum.
“Kamu tutup
mata dulu ya. Apakah aku boleh menyentuh punggungmu?” yap, Alien cantik akan
memberi kekuatannya pada Siput.
“ Ya, aku
siap, Alien!” Siput menutup matanya. Alien menyentuh punggung Siput dan
memberikan kekuatan kecepatan untuk Siput lewat tangannya. Siput merasakan
beban di punggungnya hilang. Dan...
“Tada! Sudah
selesai.” Alien senang sekali membantu Siput yang sekarang sudah punya
semangat.
“Eh? Bebanku
seperti hilang. Tapi cangkangku tidak hilang. Alien, bolehkan aku mencoba
berlari?” Siput sangat semangat dan senang karena dia sudah menemukan teman
baru walaupun dari planet lain, Alien yang cantik, dan dia mulai jatuh hati.
Siput menyukai diri Alien itu.
“Emm...
boleh.” Wuuusshhh!!! Siput berlari sangat jauh, dan menjauh, dan menghilang.
Alien sangat bingung. Mungkin Siput tak suka pada Alien. Namun, ternyata salah.
Siput berlari untuk mencari bunga mawar merah muda untuk Alien. Alien sangat
senang dengan Siput. Mereka jadi bersahabat.
Saat Alien
ingin kembali ke kawah, Siput yang kuat membantu Alien membawakan apel kesana.
Sesampainya di kawah, Siput terkejut karena dia baru tahu tempat sebagus itu.
Tetapi...
“Eh, kawah!
Kamu jangan begitu! Kasihan Siput jadi basah karena semprotanmu. Kawah sengaja,
ya?” Teddy Bear yang ada di kawah cemburu pada Siput yang mengantar pulang
Alien.
“Aku gak apa
apa kok. Mungkin memang ada yang menggerakkan air kawahnya kepadaku. Mana
mungkin ada kawah yang bisa sengaja menyemprot tepat ke target?” Siput tertawa
pada Alien karena kawah ‘kan tidak punya akal.
“Umm...
sebenernya, kawah ini adalah cintaku. Waktu kecil, aku punya Teddy Bear. Aku
mencintai Teddy-ku. Tapi, karena aku beranjak remaja, ayahku membuangnya entah
kemana. Ternyata aku tahu. Teddy Bear kesayanganku itu berubah menjadi asteroid
yang menumbuk ke Bumi. Dan inilah kawahnya. Kawah ini dikendalikan oleh Teddy
Bear. Aku menyayanginya.” Alien menceritakan kisah terjadinya kawah yang indah
ini. Siput sepertinya patah hati, di balik senyumnya saat mendengar cerita
Alien.
“Oh, begitu
ya, Alien? Ya sudahlah, daripada aku mengganggu kalian, lebih baik aku kembali
ke hutan, ya. Aku pergi ke hutan dulu. Besok main lagi ke hutan, ya!” Siput pun
berlari kencang ke arah hutan. Dia berlari sambil menahan sakit hati. Tapi dia
sangat berterimakasih kepada hari itu. Siput mendapatkan semangat dari Alien
yang mungkin saja cinta pertamanya. Oe, fitnah!!! Dulu Siput pernah pacaran sama Angin
hahaha.
Hari demi
hari berganti, Alien sering datang ke hutan untuk bermain dengan Siput dan
kawan-kawan barunya. Siput dan Alien tidak pernah merasa kesepian karena mereka
punya banyak teman di hutan. Alien selalu membantu hewan-hewan yang sedang
dalam kesusahan. Siput sering membantu teman-teman berunya untuk
mengangkat-angkat dan mencari bahan makanan.
Dari sekian
banyaknya teman Alien yang ada di hutan, seperti Kupu-kupu yang manis, Kucing
hutan yang galak tapi lucu, Kelinci putih yang nakal karena suka mengelitiki
kaki Alien, dan Merpati yang bijak, sampai Harimau yang dulunya hobi makan
hewan lain tapi sekarang berlaih jadi vegetarian haha, tapi yang nomor satu
adalah tetap Siput yang selalu bersemangat dan selalu menghibur Alien disaat
dia bosan di kawah.
Entah itu
perasaan apa.
Sinar
matahari pagi terik sampai bisa memasuki celah daun-daun pohon di hutan. Alien
yang sudah berada di Bumi selama sembilan bulan mau ulang tahun yang ke 160
(waw udah tua! Kok kata narator masih muda?).
Yap, saya
tahu kalau pembaca pasti bertanya-tanya kenapa umurnya sudah 160 kok tetap
terlihat seperti anak remaja. Soalnya, di planet F1N3-4, makhluk-makhluknya
sama seperti makhluk planet Bumi. Tetapi, mereka yang di planet F1N3-4 memiliki
sepuluh kali lipat kekuatan, sepuluh kali awet muda, sepuluh kali panjang umur,
dan sepuluh kali lebih cepat larinya (bahkan bisa teleport). Jadi, umur 160
tahun seperti umur 16 tahun. Hehe naratornya memang somplak.
Teman-teman
Alien yang ada di hutan berencana untuk memberikan Alien kejutan ulang tahun di
kawah, tapi Siput dan Alien tidak tahu rencana teman-temannya. Saat Harimau,
Kelinci, Kucing dan yang lain-lain rapat, Siput sedang mencari apel merah untuk
ulang tahun Alien. Saat Siput kembali, Kelinci mendekati Siput dan membantu
mengangkat satu apel, tapi untuk dimakan. Tsaaah...
“Eh, Siput.
Mau ikut kita ngasih kejutan buat Alien ga?” sapa Harimau.
“Boleh. Ini apelnya
juga buat hadiah besok. Oke, aku ikut.” Tanpa pikir panjang, Siput ikut
teman-temannya untuk memebri kejutan ulang tahun Alien yang ke-160 di Bumi.
Malam hari
sebelum acara ulang tahun Alien, Siput begadang untuk menyusun apel-apel yang
ternyata berjumlah 160 untuk membentuk formasi hati di atas lapangan, tempat
pertama Siput dan Alien bertemu.
“Akan
kuberikan kejutan ini untuknya.” Selesai sudah susunan apel yang membentuk hati
itu. Siput mengusap keringatnya. Dia menuju bawah pohon untuk tidur. Sayangnya,
Siput tidak bisa tidur. Berdebar jantungnya. Tak sabar menanti besok.
Hari yang
ditunggu Siput datang. Semuanya sudah siap-siap dan berkumpul untuk memeriahkan
ulang tahun Alien di kawah. Kelinci menjemput Siput yang baru saja bisa tidur
dua jam.
“Hoy, Put! Bangunnn...”
Kelinci menggoyang-goyangkan cangkang Siput yang sedang bermimpi indah. Terpaksa
Siput meninggalkan mimpinya dan bangun.
“Eh? Udah
pagi? Ayo kita kejut Alien!” eh? Baru bangun Siput udah ngibrit lari
meninggalkan Kelinci. Kelinci juga gak kalah cepat dari Siput berlari
mengejarnya ke tempat pertemuan dengan Harimau dan lainnya. Alien sudah
digiring ke sekitar pohon besar tempat bermain hewan-hewan hutan bersama Kucing
dan beberapa yang lain. Kupu-kupu, Merpati, dan burung-burung lain sudah siap
di kawah mendekorasi tempat ulang tahun. Tapi, sampai sekarang, Siput masih gak
tahu prosedur kejutannya.
Pokoknya selama
dikerjain, Alien hanya tertawa karena dia tahu hari ini adalah ulang tahunnya.
Siput hanya tertawa dan ikut-ikutan mengerjai Alien, sebisanya.
“Sekarang,
Alien tutup mata pakai daun pisang ini!” seru Kelinci yang sudah dikabari
Merpati kalau tempat ulang tahun sudah siap. Harimau mengikatkan daun pisang
agar mata Alien tidak bisa melihat. Siput menggiring Alien sesuai petunjuk
Harimau. Langkah demi langkah dijalani Alien sambil membayangkan baiknya
teman-temannya merayakan ulang tahunnya yang ke-160.
Sesampainya di
lokasi acara puncak, Siput baru sadar kalau tempatnya ada di kawah. Siput sadar
karena ada cipratan air kawah ke muka Siput. Siput sebenarnya kecewa, kenapa
harus di kawah ini lagi? Kawah hasil cinta pertama Alien yang jatuh ke Bumi?
Siput
membuka ikatan daun pisang yang menutupi pandangan Alien dengan sakit hati yang
ditutupi senyum pahitnya kemudian menjauh perlahan. Hingga semua tidak sadar
ada Siput, Siput berlari cepat dan keluar dari daerah kawah menuju susunan hati
dari 160 apel merah, dan menangis. Dia meratapi apel-apel itu dengan luka. Meringkuk
di bawah pohon. Menangis lagi.
Alien sebenarnya
sadar kalau Siput sedih saat daun pisang di kepalanya dibuka. Dia melihat mata
sedih itu. Tapi, Alien juga tidak mau mengecewakan rencana teman-teman yang
sudah memberinya kejutan seindah (tapi sesedih) itu. Jadi, setelah acara selesai,
Alien berlari menuju pohon tempat tinggal Siput untuk minta maaf.
Melihat dia
sudah sampai di lapangan dekat pohon tempat Siput hidup, Alien terkejut,
senang, terharu dengan apel-apel yang tersusun seperti hati. Pupil Alien yang
indah dan konjungtiva-nya mengeluarkan cairan (kata-kata favorit narator ini
dari novel 5 cm). Yap, menangis bahagia.
“Siput,
apakah kau membuat ini untukku?” Alien berbicara pada Siput, atau pada bayangan
Siput yang ada di khayalannya.
“Iya. Selamat
ulang tahun, Alien.” Siput keluar dari pohon dengan mata yang lelah. Tapi dia
cukup senang karena Alien sudah melihat apel-apel merah itu.
“Kamu gak
apa-apa, kan?”
“Umm...
sedikit kecewa karena kawah.”
“Maafkan
aku, ya. Aku juga gak tahu.” Alien mendekati Siput yang masih terlihat sedih
dan kecewa.
“Gak apa. Bukan
kamu penyebabnya.” (narator: Oe, rapopo ndasmuuu?)
“Terimakasih
ya, Siput. Kamu benar-benar sahabat yang paling baik. Terimakasih atas
apel-apel ini.” Alien mencium pipi Siput. Siput tersipu malu, dia merasa lebih
baik.
Semakin hening
setelah ciuman itu. Semuanya tersenyum, bahkan langit yang mulai jingga pun
tersenyum pada hutan ini.
“Aku gak
butuh jawaban. Tapi, aku hanya ingin kamu tahu. Aku cinta kamu, Alien. Biarkan
ini menjadi kisah yang tidak berakhir, ya.” Alien tersenyum. Siput membalas
ciuman ke pipi Alien.
Yap, biarkan
ini menjadi kisah yang tidak berakhir.