Kamis sore. Menuju jingga yang siap tuk mengantar pulang sang mentari kembali ke peraduan. Butiran keringat ikut datang ke dahi mendinginkan kulitku setelah mengantar kue-kue bunda ke rumah pelanggan. Kuda besi yang kutunggangi sepanjang hari kumasukkan ke kandangnya. Langkah menuntunku menuju istana kecil yang kusebut kamar.
Cahaya yang akan pulang tak lupa menyapa istanaku. Melewati pertahanan tirai jendela. Debu-debu berkilau menari-nari di jalur sinar yang lurus itu. Efek tyndall. Namun penatku tak memperhatikan itu. Langsung kuraih gitar hitam di samping meja belajarku. Jari-jariku berdansa fret demi fret menjamah dawai-dawainya. Kisaragi Attention dari IA menggetarkan seluruh ruangan ini.
Vocaloid. Mereka, manusia yang menormalkan kenormalan mereka, bilang seleraku aneh. Dulu aku selalu membantah. Apa salahnya punya selera sendiri?
Lalu, disaat mereka semua memandangku tak menggunakan mata, ada dia. Andra. Drummer itu datang saat jemariku seperti kerasukan dan memainkan Unholy Confession dari Avenged Sevenfold, sendirian. Dia membuka pintu ruangan musik sekolah tanpa kusadari. Tapi aku mendengar decitan pintu besi yang sudah berkarat itu.
“Hanis.” Suara Andra yang terdengar saat aku kembali sadar dan menghentikan jariku. Aku menoleh dan alis kananku naik menatap tubuh vokalis band kebanggaan sekolahku, Lucid Dream.
“Eh? Kok kamu bisa kesini?” Akhirnya dia menarik kursi dari balik drum set dan duduk di depanku.
“Oh, tadi. Gue habis main PES di kelas. Pas mau pulang, gue denger ada bunyi distorsi yang gak asing nadanya. Tapi, gue curiga. Edo di samping gue. Terus yang main lagu itu siapa? Yaudah gue kesini. Eh ternyata Hanis yang main. Keren lho. Apalagi cewek yang main. Hehehe...” Gigi itu yang selalu menyapa saat tertawa. Lucu sekali. Aku pun ikut menyusul tawanya.
“Hahaha makasih lho, ya. Tapi aku masih newbie. Apalagi aku gak bisa bergaul sama temen-temen. Taulah anak yang suka anime kan...”
“Eh, gue suka anime juga kali. Kalo mau gabung ke Lucid, ikut latihan tiap Jumat sore aja disini. Kita terbuka kok. Lagian, Unholy Confession kamu tadi keren.” Aku terbelalak. Ditambah jempol Andra mendarat di depan muka merahku. Dia berdiri mengangkat tas merahnya dan membuka pintu.
“Hanis, jika orang lain tak bisa menghargai perbedaanmu, jadikan dirimu seperti mereka. Semoga beruntung. Jangan takut bergaul lagi, ya.” Andra meninggalkanku di ruangan yang tiba-tiba berubah indah ini. Aku memutar volume hingga mengecil, kucabut kabel gitar. Kumatikan semua alat-alat dan meninggalkan ruangan musik gelap. Saatnya pergi ke toko roti bunda untuk mengantar kue-kue.


Jemariku sudah berhenti. Peluh itu sudah menguap. Aku merebahkan tubuhku bersama gitarku diatas pulau kapuk. Kali ini aku memandangi debu-debu itu melayang bercahaya. Tenang sekali. Hingga suara jam dinding pun terdengar keras untukku.
Mataku tertuju pada semua gambar yang berbingkai. Dia bergantungan pada paku di dinding. Sebuah foto saat festival budaya Jepang di SMA 9. Aku berdiri diantara Andra dan seorang cosplayer yang berlindung dibalik jubahnya dan menyamar menjadi salah satu anggota Akatsuki, Deidara. Ninja yang memiliki lidah di telapak tangannya dalam anime Naruto.
Saat itu, dimana berpuluh-puluh cosplayer yang memakai kostum anime kesukaan mereka, dimana banyak sekali cosplayer yang berdandan hampir mirip seperti tokoh yang diperankan, aku hanya tertarik pada sosok Deidara itu.
Saat itu, aku punya sahabat yang mengerti hal yang kusuka. Dia juga menyukai apa yang aku suka. Seorang yang terpandang di sekolah. Andra mengajak semua personil Lucid Dream (aku, Edo, dan Mikha) ke acara yang di Jepang disebut Bunkasai ini.
Dan saat ini, aku masih penasaran dengan Deidara itu. Semoga kita bertemu kembali.


Jumat. Anak laki-laki berbarisan menunggu jatah untuk ber-wudhu. Aku dan Mikha, sang vokalis yang bisa main bass dan bisa bersuara seperti setan saat acara musik luar sekolah, berteduh dibalik pohon jambu air yang seringkali menggugurkan bulu-bulu dari bunganya. Menunggu Andra dan Edo menjalankan kewajibannya di rumah Tuhan.
“Woi, Mik.” Aku memanggil nama pemilik rambut coklat yang berurai itu. Dia menoleh.
“Yap? Ada apa Han?” Suara itu sangat berbeda bila dibandingkan saat dia berteriak di panggung GOR waktu konser fans Avenged dua pekan yang lalu.
“Aku penasaran sama Deidara itu.” Aku memandang ke langit yang tertutupi daun-daun jambu.
“Apa? Dara-dara apaan? Aku nggak ngerti.” Oh, iya. Lupa kalau Mikha sama sekali belum mengenal anime Jepang. Dia termasuk ‘manusia normal’ versi murid-murid sekolah ini. Aku mengerutkan dahi dan memukulnya lembut dengan telapak tangan.
“Deidara, Mikhaaa... Itu lho yang waktu acara di SMA 9 pake baju jubah hitam. Yang ada awan merahnya itu lhooo.” Aku bicara dengan sangat bersemangat. Mungkin berlebihan.
“Biasa aja, Buk. Oh yang tangannya digambari mulut itu, Han? Kenapa? Elu naksir, ya?” Sialan. Wajahku memanas tanpa sebab.
“Eh, kagak. Kagak, kok. Cuma penasaran aja. Waktu itu, aku pengen tahu nama aslinya. Eh, dia malah diajak foto sama orang lain. Padahal aku...”
“Pengen deket sama dia, kan? Ah, ketahuan deh. Kamu itu masih polos. Kalo mau nutupin perasaanmu, jangan sama gue. Gue bisa baca raut muka elu, Han.”
Mukaku semakin panas saat menyadari pernyataan Mikha menancap di dada. Aku berdiri mencari air untuk mendinginkan wajahku yang sepertinya memerah.
Dua pemuda yang kita berdua tunggu sudah mendatang. Wajah yang bercahaya akibat air suci.
“Weh ada cewek-cewek duduk nih. Nunggu siapa, Neng? Hahaha.” Andra, semakin dekat semakin suka menyeringai. Edo pun tak sanggup melihat Andra yang sableng.
“Eh tukang ojek. Lagi nunggu cowok-cowok jones nih hahaha.” Aku membalas lelucon Andra sebisanya. Tak kuasa aku untuk menahan tawa.
“Sialan lu, Bebeb Hanis.”
“Najis lu, Ndra. Ah udahlah kita langsung ke markas, yok!” Wajahku memanas lagi karena Andra menggodaku dengan kata ‘bebeb’. Semua tertawa.
Kita berjalan dari pohon jambu menuju ruangan musik melewati tepi lapangan. Aku berjalan paling depan. Di tengah lapangan aku melihat dua lelaki yang berjalan menuju depan sekolah. Lengan kirinya bertuliskan angka 11, berarti mereka satu angkatan denganku. Suara mereka bisa kudengar. Sepertinya mereka sedang curhat.
“Kayaknya dia emang pengen putus deh, bro.” Yang menggendong tas punggung berwarna biru terpancar wajah putus asa. Tetapi aku terpaku pada wajah lelaki yang satunya. Yang memakai tas punggung hitam dan ada motif garis berwarna merah itu.
“Jangan gitu. Gue gak suka lihat orang yang negative thinking.” Suaranya tidak asing. Tapi entahlah. Semua rasa penasaranku pecah seraya Edo menepuk pundakku.
“E-e-deidara eh Deidara... Eh Edo, jantungan aku.” Aku berteriak karena sangat terkejut. Mataku terbelalak saat aku sadar latahku aneh. Kututup mulutku dan berlari menuju ruangan musik yang tidak jauh lagi. Aku malu. Mungkin dua orang itu bisa mendengar refleks yang begitu aneh itu.
Satu jam saja jemariku sudah mulai lemah. Perutku sudah bernyanyi. Padahal malam Minggu besok ada event manggung biasa di mall. Aku bersyukur karena lagunya tidak terlalu susah. Dan latihan sudah selesai.
Saat aku mengunci ruangan musik, semua menatapku. Sangat aneh. Sepertinya ada yang salah denganku.
“Diem aja lu? Mikirin Deidara ya? Mikha udah cerita tadi.” Andra mulai memandangiku dengan mata jenakanya itu. Sialan. Mikha membuka ceritaku. Kali ini bukan wajahku yang memanas, sepertinya neraka sudah ada lubangnya. Panas sekali. Padahal langitnya kelabu.
“Besok malam Minggu ‘kan acaranya juga ada cosplay tuh. Kayaknya yang jadi Deidara itu bakal dateng, Han.” Entah perasaan senang ini datang seketika. Aku mencabut kunci dari gemboknya. Menyerahkan kumpulan kunci-kunci dari satpam sekolah ke Andra.
“Emang aku nanya?” Aku mengambil tasku dan menggendongnya. Mengalihkan pandanganku dari wajah Andra. Menyembunyikan wajah senangku.
“Alah bersandiwara lu. Ntar kalo ketemu sama orang yang pake kostum Deidara, langsung ajak kenalan, Han. Jangan kelamaan. Hahaha.” Mikha tertawa manis, tapi jahil bagiku. Semua sudah tahu rahasiaku.
“Sebenarnya aku tahu siapa yang dibalik kostum Deidara itu.” Aku berbalik badan. Tatapan Andra sangat misterius. Mengundang sejuta tanya ke otakku.


Kemeja pendek kuning polos, rompi cokelat kotak-kotak, denim biru muda, dan sepatu Converse biru navy. Pemandangan sederhanaku untuk manggung malam ini. Tak lupa kacamata dan jam tangan cokelat. Tas gitarku sudah siap untuk melindungi tubuh gitar hitam manisku. Aku berdandan seperlunya. Pelembab, bedak, dan lip balm sudah cukup.
“Hanis. Mau diapelin cowok ya? Kok cantik sih, anakku?” Ayah baru saja pulang dari Bandung. Menikmati teguk tiap teguk kopi espresso yang pahit itu. Kata ayah, lebih baik menikmati pahitnya espresso daripada merasakan pahitnya dijajah cinta.
“Yah, Hanis itu ganteng, Yah. Gimana mau cantik kalo rambutnya cepak banget kayak cowok gini?” Aku membenahi posisi gitarku. Lalu aku mengambil sisir dari dalam lemari.
“Hanis, kamu itu cewek. Anak Ayah mesti cantik, dong. Kan anak Ayah cewek-cewek. Hanis sama mbak Gera.” Mbak Gera sekarang kuliah di Surabaya. Yah tiba-tiba merindukan mbak Gera kalau sedang memasak dengan Bunda. Dan di rumah ini, hanya aku dan ayah yang tidak bisa memasak.
“Iya deh. Hanis cantik. Hehehe.” Aku duduk di depan televisi, di samping Ayah.
“Mau kemana? Kenalin ke Ayah dong cowoknya.” Ayah mengambil sejumput kacang rebus yang aku beli dari pasar saat pulang sekolah.
“Hanis belom punya cowok, Yah. Hanis kan anak baik. Hehehe.”
“Anak baik atau jon, jon, jon apa tuh? Jones? Nah itu. Jomblo ngenes?” Ayah tertawa melihat anak bungsunya yang merana dalam kesendirian. “Makanya cepet-cepet cari cowok. Biar bisa dikenalin sama Ayah.”
“Ayah ngerti jones juga ternyata haduh.” Aku menepuk dahiku yang bernaung dibalik poni yang sudah kusisir rapi.
Di luar sangat sunyi. Hingga suara mesin mobil yang berhenti dan decitan pagar rumah terdengar. Sepertinya itu suara tawa teman-teman.
“Permisi.” Itu suara Andra sambil mengetuk pintu. Ayah langsung menyeringai bahagia dan berjalan ke ruangan depan untuk membuka pintu.
“Katanya gak punya cowok? Itu ada cowok. Mau ngapel kamu tuh, Han. Silahkan masuk, Nak.” Aku pun datang kedepan sambil membawa tas gitarku. Melihat Andra sendiri yang keluar mobil membuat ayah mengira Andra ingin mengajakku kencan malam Minggu. Andra pun tertawa.
“Iya, Om. Saya pacarnya Hanis. Hehehe.” Memang, T-shirt putih polos bodypress itu sangat meyakinkan untuk mengajak kencan. Tapi, massa iya aku kencan dengan Andra yang sangat sableng itu?
“Eh, mabok kamu. Enggak kok, Yah. Dia Andra. Temen satu band. Nanti kita mau manggung di mall.” Aku menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. “Yah, Hanis berangkat dulu, ya.”
“Iya. Hati-hati kalo nyetir ya, Nak Andra.” Aku melambaikan tangan pada ayah dan kakiku melangkah keluar menuju mobil Andra.


Masih sore. Panggung sudah tertata rapi. Pesanan ramen kuah sapi sudah ada di tanganku. Begitu menggoda lidah. Melihat orang-orang memasang MMT untuk proyek cosplay, berdandan, memakai kostum, terbesit keinginanku untuk jadi cosplayer juga.
“Masih nyari-nyari Deidara?” Kemeja denim biru tua melindungi kaos putih Andra. Wajah Andra kembali misterius seperti saat pulang dari latihan. Ini lebih tajam dan menusuk. Entah ada apa.
“Beneran kamu tahu orang dibalik kostum Deidara itu?” Dia hanya mengangguk, tapi terlihat pasti. Beberapa detik aku terpaku pada wajah Andra, lalu aku melanjutkan menikmati ramen. Melihat Edo dan Mikha berebut segelas starbucks yang aku tak tahu itu rasa apa. Melupakan tatapan Andra yang berbeda. Tak sadar cepat sekali ramenku sudah habis dan mentari sudah pergi.
Acara dimulai dengan beberapa lagu barat. Sebenarnya semua personil sudah bisa memainkan instrumen beberapa lagu soundtrack anime. Tetapi Mikha tidak terlalu hafal liriknya. Apalagi memakai bahasa Jepang yang tidak kita dapatkan di sekolah.
Konsentrasi masih didominasi dengan acara cosplay. Tiba-tiba terlintas ide agar lebih meriah. Aku berdiri meraih pengeras suara. Mikha, Andra, dan Edo melihatku yang sedang kerasukan setan broadcast seperti penyiar radio.
“Selamat malam para pengunjung Ramayana Mall. Malam Minggu memang asiknya ke mall dong. Yak, malam ini sangat istimewa karena kami ada acara pameran costume play atau yang sering disebut cosplay dan pesta budaya Jepang. Nah, disana ada yang jualan makanan Jepang. Dan hasil penjualan makanan akan kami sumbangkan ke panti asuhan. Oke. Ramaikan acara ini. Pastikan kalian enjoy.” Aku tersenyum melihat pengunjung semangat meramaikan pesta ini.
“Hanis mabok, Hanis mabok...” Edo memberikan jempol ke arahku.
“Hahaha saya dikira mabok sama gitarisnya nih. Oke. Disini ada yang jago nyanyi lagu Jepang? Khususnya lagu-lagu vocaloid. Ada?” Melihat audience yang memperhatikan panggung membuatku bahagia. Aku lihat ada yang tertarik dengan pertanyaanku. Di bagian kumpulan cosplayer seragam murid perempuan yang di Jepang disebut Seifuku.
“Ini, kak. Dia.” Beberapa cosplayer menunjuk ke satu orang. Dia cantik sekali. Apalagi dengan wig warna pirangnya itu. Langsung saja aku melangkah menuju cosplayer cantik itu.
“Hai, cantik. Siapa nama kamu?” Aku merangkul tubuh yang lebih tinggi dariku itu. Entah dia benar-benar tinggi atau karena sepatu ber-heels lumayan tinggi itu. Tapi tubuhnya cantik sekali. Dan mengapa teman-temannya tertawa sangat meledak.
“Aku Aldia.” Aku tersedak. Suaranya sangat besar. Itu pasti lelaki. Oh, aku berdosa menilai dia cantik dalam hatiku. Yang bisa kuekspresikan hanyalah mata yang membuka sangat lebar dan senyum yang sangat kecut.
“Oh, hai Aldia. Ternyata kamu lelaki ya? Oke. Kamu bisa nyanyi lagu vocaloid apa nih?”
“Kisaragi Attention.” Aku juga suka, batinku.
“Dari IA ya? Kamu saya ajak nyanyi Kisaragi Attention di atas panggung. Saya yang main gitar, kamu yang nyanyi. Mau?” Teman-temannya semakin menyemangati Aldia ini dengan beberapa tepukan yang mendarat di pundaknya. Dia hanya mengangguk dan ikut berjalan denganku menuju atas panggung.
Beberapa minggu yang lalu, aku menyendiri di ruangan musik. Tanpa Andra, Mikha, ataupun Edo. Aku duduk disana dan memangku laptop milik Andra. Steraming Kisaragi Attention yang dimainkan akustik oleh akun Osamuraisan lewat Youtube. Lalu aku mengikuti gerakan tangannya dan memahami alur lagunya. Sangat indah dan menyenangkan. Dan tak lama kemudian Andra datang untuk mengambil laptopnya saat aku tenggelam dalam irama. Setelah kejadian itu, Andra mengajak Edo dan Mikha untuk menggarap lagu-lagu vocaloid versi Lucid Dream.
Mata Andra mengawasi lelaku itu. Sangat tajam. Dan aku tak mengerti.
Jariku meneliti dawai-dawai gitar. Mataku memandangi lelaki berseifuku yang duduk di sampingku sambil membawa mic yang tadi kubawa saat berubah jadi MC. Kupandangi dalam wajah lelaki itu, tak asing. Suaranya pun aku pernah mendengar. Sangat berat dan basah.
Sepertinya aku pernah bertemu dengannya.


Acara sudah selesai. Aku terus menguap, tanda tubuhku kekurangan oksigen karena berebut dengan manusia-manusia di dalam mall. Mataku berat sekali. Untungnya Edo membelikan es moccachino. Cukup menolong rasa kantukku.
Kukembalikan gitarku ke dalam rumah kecilnya. Andra masih melihat lelaki itu membuka wignya. Pandanganku menuju sosok itu yang sedang membuka seragam bagian atas yang hinggap di tubuhnya sejak sore tadi. Tubuh yang sepertinya pernah kulihat. Edo dan Mikha membantu panitia membenahi kabel-kabel dan peralatan di belakang panggung.
Andra berjalan menuju lelaki itu. Mereka berdua langsung berjalan keluar mall. Semakin mencurigakan. Penasaranku memuncak. Aku tak tahan  ingin mengkuti mereka dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
Aku berlari dan bersembunyi dibalik pot besar utnuk menyamarkan keberdaanku. Sangat serius.
“Itu?” Kata pembuka dari sosok bernama Aldia itu. Dia seperti lelaki yang berkata tak suka orang yang negative thinking di tengah lapangan. Seperti manusia yang sembunyi di balik jubah Akatsuki sebagai Deidara.
“Sebaiknya gue mundur ajadeh.” What? Mundur dari apa, Andra?
“No. Itu bukan elu. Andra Saputra, sahabat gue dari kecil. Yang gue kenal bukan orang yang cemen kayak kalimat terakhir lu yang memalukan itu.”
“Tapi sebaiknya lu jangan mainin dia.”
“Siapa bilang? Aku juga tertarik sama dia.” Woi, woi, dia itu siapa?
BRUK! Pot didekatku tak kuat menompang tubuhku saat bersembunyi. Mereka menoleh melihatku tersungkur. Hanya sepersekian detik aku melihat wajah mereka terkejut. Namun berubah saat Andra mulai tertawa
“Weh Hanis ngapain lu disitu? Kesini dong.” Andra melambaikan tangannya. Aku bangkit dan merapikan bajuku. Berjalan menuju dua lelaki yang misterius itu. “Ini Aldia, yang kemarin pake baju Akatsuki itu.” Aku hanya bisa membelalakkan mata sebisanya. Apa? Ini Deidara itu? Dan dia sedekat ini denganku. Dia mengajakku berjabat tangan. Baiklah, aku berharap waktu tiba-tiba pincang dan tidak bisa bergerak, sebentar saja.
“Aldia.” Dia tersenyum padaku. Hanya padaku.
“Ha-ha-hanis. Salam kenal.” Aku tak bisa bernafas. Bicara pun terbata-bata. Keep calm, Hanis. Tangannya terlalu berharga untuk dilepaskan.
Edo dan Mikha sudah berjalan menuju luar. Kita beranjak ke tempat parkir. Andra membuka pintu dan menatap Aldia.
“Bro Aldia, kalo lu mau gabung di Lucid Dream, silahkan. Asal jangan cosplay crossing jadi cewek lagi. Oh, dan satu lagi. Semoga kau selalu ingat pembicaraan kita tadi.” Aku, Mikha, dan Edo hanya saling pandang dan tak mengerti.
Dan malam ini berakhir dengan canda tawa Lucid Dream dan anggota barunya, Aldia.


Pagi. Aku bergulat dengan buku soal matematika di bangku pojok. Disini hanya berdua. Aku dan orang yang kurang lebih delapan bulan aku mengaguminya, Aldia. Semuanya sudah berubah. Dulu aku menemukannya berbicara di tengah lapangan dengan angka 11 di lengan kirinya. Kini kita berganti menjadi anak kelas 12. Dan yang paling aku suka, kita jadi satu kelas.
Dulu aku melihatnya sebagai mahluk introfert yang sering menyamar menjadi wanita Jepang di event cosplay. Setelah dia berani menyanyikan Kisaragi Attention di mall saat itu, dia berubah menjadi vokalis Lucid Dream yang diidolakan banyak murid perempuan. Melihat itu, secret admirer bisa apa? Buat cemburu melihat Aldia diajak selfie dengan wanita-wanita cantik saja apa boleh?
Saat ini, konsentrasiku benar-benar pada pasukan penyerang integral, linear, dan matriks. Berkali-kali aku membenarkan posisi kacamataku yang bergesekan dengan keringatku yang bercucuran seiring banyaknya soal yang terlah kulawan. Dan inilah saat yang paling menyenangkan. Ada tantangannya.
“Heh, Hanis. Dipanggil-panggil yang denger. Congekan, ya?” Aldia membuyarkan perangku dengan soal-soal diatas mejaku. Wajahnya sungguh godaan. Mengundang rasa yang tak bisa dimengerti.
“Eh, sorry, Al. Ini ngerjain soal matematika nih. Lagi seru-serunya. Ada apa manggil-manggil?” Aku sudah terbiasa bersikap senormal mungkin didepan Aldia. Berusaha tak segugup dulu.
“Hahaha ya deh yang jago matematika. Ntar aku diajarin, ya. Gini, ntar paduan suara ada latihan tuh habis pulang sekolah. Temenin aku ya, kayak biasanya.”
“Kamu malah masternya karate. Siap kapan saja, Al.” Setiap saat seperti ini. Selalu dekat dengan Aldia. Selalu dekat dengan mata tajamnya, tubuh tingginya, tawa renyahnya dan obrolan tentang anime yang selalu seru untukku.
“Makasih ya. Kamu selalu ada.” Senyumnya membuat jantungku tidak normal.
Sudah tidak sepi lagi kelas ini. Baru kusadari jarum pendek mulai mendekati angka tujuh. Aldia kembali ke tempat duduknya, di depan meja guru. Dari belakang, rasanya ingin kugapai tubuh indah itu.
Ruang seni tari penuh dengan suara emas. Aku duduk sendiri melihat langit dan sepasang anak headset hinggap di lubang telingaku. Aku putar daftar lagu secara acak. Sekarang sudah jarang bertemu dengan anak-anak Lucid selain Aldia. Semua berbeda kelas. Apalagi Andra sudah konsentrasi ke cabang distro milik ayahnya yang dia kelola. Mikha dengan proyek buku tahunan bersama anak OSIS lainnya. Edo dengan rencana-rencana setelah lulus. Dan aku, sering berdiam diri sambil berteman dengan buku soal dan pemandangan indah di kelas, Aldia.


Sudah sejak kelas 12, Andra berubah. Sudah jarang menyatukan Lucid Dream dan tenggelam di dunianya. Andra tak lagi banyak bicara yang menyeringai seperti dahulu, terutama dengan Aldia dan aku.
Aku berusaha menyembunyikan pertanyaan-pertanyaan untuk Andra. Lebih baik mempersiapkan ujian nasional dengan berkawan soal-soal latihan dan memperdekat diri dengan Tuhan. Dan sore ini, tubuhku lelah untuk menghadapi rutinitas menghadapi ketakutan hasil final.
Kurebahkan tubuhku di bawah pohon jambu air dan bernyanyi lagu yang aku tak memilihnya. Endah n' Rhesa, When You Love Someone.
“When you love someone, just be brave to say. If you want him to be with you...”
Aku tersadar. Apakah pesan lagu itu untukku? Kulepaskan anak headset dan berdiri. Aku takut dengan lagu itu. Dan aku tersadar di belakangku ada suara langkah kaki.
“Eh? Kamu gitarisnya Lucid Dream kan?” Aku menghadap sumber suara itu. Murid perempuan yang memiliki angka 12 di lengan kirinya. Seangkatan.
“I-iya. Maaf kamu siapa ya?”
“Aku Sasha. Sorry ngganggu. Nama kamu Hanis Zaenal kan?”
“Oh. Sasha. Nggak kok tiba-tiba aja aku pengen berdiri. Ada apa ya?”
“Gini. Di paduan suara kita kekurangan satu perempuan yang jenis suaranya Alto. Setelah mendengar kamu nyanyi tadi, aku jadi tertarik buat ngajak kamu gabung di paduan suara waktu perpisahan. Gimana, kamu mau?” Apa? Jadi anak paduan suara? Bersama Aldia tentunya. Ayo, Hanis. Kesempatan gak ada yang tahu aka terulang atau tidak.
“I-iya beneran ini? Aku mau dong.” Tanpa pikir panjang.
“Waaah terimakasih banyak Hanis. Ayo, masuk ke ruang seni tari.” Tanpa ragu aku berjalan bersama Sasha ke ruang seni tari yang sore ini penuh dengan suara indah, dan juga mahluk yang indah.
Terimakasih Tuhan. Kau lebarkan jalanku untuk bersanding dengan Aldia.


Malam minggu yang gemerlap. Ada air mancur dan banyak lampion. Beratus-ratus lilin ada di setiap langkah. Malam perpisahan.
Acara sudah mendekati puncak. Waktu hampir menggerogoti setengah malam. Perpisahan diakhiri dengan paduan suara. Aku takut. Tapi kuberusaha mengurangi rasa takutku dengan melihat Aldia. Hanya saja, yang terjadi malah aku tambah takut.
Sudah berbulan-bulan aku tak bersenda gurau dengan Lucid Dream. Bagaimanapun juga, mereka yang membuat masa SMA ku lebih berarti. Aku bersiap-siap di ruang transit untuk make up dan berkumpul dengan anak-anak paduan suara. Andra, Mikha, dan Edo mendatangiku dan Aldia. Ketakutanku berkurang.
“Woi, ciye yang keterima SNMPTN di UNDIP.” Edo menepuk pundakku. Seperti dahulu. Dia semakin rapi daripada kelas sebelas dengan rambut kribo seperti awan cumulonimbus.
“Weh, satu-satunya jebolan Lucid yang bejo ini. Hahaha.” Mikha memelukku. Dia cantik dengan pakaian OSIS dan bandana tosca. Terakhir kalinya seangkatan memakai baju OSIS. Dan Andra membawa gitar dan datang padaku. Sepertinya itu lagu yang menakutkan.
“When you love someone, just be brave to say. Ahahaha.” Benar. Wajah menyeringai yang kurindukan dari dirinya datang kembali. Dia menjabat tanganku. “Masih mendemin perasaan sampe sekarang?” Edo dan Mikha tertawa, tanda mengetahui sesuatu. Aldia hanya tersenyum. Senyum yang tak kumengerti.
“Emangnya aku ngapain, woe.” Aku memanas. Seperti saat Aldia di tengah lapangan. Aku melihat wajah Aldia lagi. Sangat lama. Mereka semakin berisik saja.
“Walah. Ntar kamu luapin semuanya. Mumpung hari terakhir.” Mikha menggodaku dengan suara lembutnya. Oh, setan dimana-mana. Panas. Semua memberi Andra kode. Aku kebingungan melihat mereka. Termasuk Aldia. Andra menarik lenganku dan mengajakku keluar dari ruang transit. Di tangannya ada dua lilin. Kita berhenti di bawah pohon jambu air. Dia menggapai telapak tangan kananku dan menyerahkan satu lilin.
“Ini kesempatan terakhir kita buat ketemu sama temen-temen, Han. Gue pengen lu ungkapin semua perasaanmu ke dia.”
“Aku kan...”
“Cewek? Ini cuma ngungkapin doang, kan? Gak masalah lu cewek atau cowok.”
“Aku gak berani sekarang, Andra. Gak bisa.”
“Aku gak ingin kamu selalu menyembunyikan perasaanmu. Aku gak ingin punya sahabat yang gak bisa ngomong ke orang lain. Please.” Dia berlutut. Aku hanya bisa menatapnya. Kosong. “Aku juga bakal ngungkapin perasaanku ke orang yang aku kagumi. Jadi, kita bersamaan mengakui perasaan. Oke.
“Kalau kamu gak berani, kamu pecundang!”
Dia berdiri. Aku masih hampa. Kulihat kaki Andra berlari ke bangku penonton. Sasha memanggilku untuk berdoa bersama paduan suara. Dan setelahnya, kita berdiri diatas panggung. Aku di depan Aldia. Punggungku selalu merinding setiap latihan. Apalagi dengan hari ini.
Terimakasihku, kita nyanyikan.
Aku duduk di dekat air mancur bersama lilin yang sudah kunyalakan. Andra berjalan bersama Aldia, melangkah ke arahku. Sesuai janji, Andra sama membawa lilin.
Andra mengangguk. Tanda mempersilahkanku.
Sekarang, aku benar-benar akan mengatakan sesuatu untuknya. Yang berdiri di depanku dengan jas paduan suara itu.
“Yang kutemui dengan jubah Akatsuki. Orang yang mau bernyanyi Kisaragi Attention di dekatku. Sosok yang tak suka dengan orang yang berprasangka buruk. Hanya dengan lilin kecil ini yang bisa kuberikan. Untuk seseorang yang kuamati dengan diam dan sepucuk doa. Aldia.” Aldia memelukku. Membisikkan terimakasih. Pelupukku tak bisa menahan cairan hangat ini. Terlalu berharga tuk dilepaskan.
“Oke. Sekarang gantian gue yang bakal ngasih lilin kedua ini. Elu bawa ponsel, kan?” Suara Andra membuatku melepaskan Aldia yang ada di pelukku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum senang.
Andra menyembunyikan tangan kirinya dibalik punggung. Tangan kanannya membawa lilin kedua yang menyala. Ada yang lain di matanya. Ada yang bergetar di dalam saku kananku. Aku hanya bisa terpaku pada nama kontak yang menelponku.

ANDRA.


by: Divetri Ayu Rahmawati a.k.a. Elang Riyadi