INI CERPEN PERTAMA GUE WAKTU MASUK SMA (yang sukses hehehe). CERITANYA HAMPIR SAMA DENGAN KISAH NYATA GUE SAMA SAHABAT GUE hahaha #sarcasm. Makasih ^_^
Kelas masih ribut karena belum ada bel masuk. Lagi pula jam
dinding belum ada pukul 7 tepat. Jam tangan digitalku masih nunjukin pukul
06.54. Biasanya jam tanganku ini lebih cepat 3 menit dari jam dinding sekolah. Kira-kira
masih pukul 7 kurang sembilan menitan lah.
Hari ini masih
seperti hari biasanya. Duduk sama sahabatku dari bangku SD. Shalima namanya.
Tapi aku lebih suka manggil dia Shelly. Dia cantik, lebih pendek 5 cm dariku,
tubuhnya ramping dan rambutnya panjang. Apalagi ditambah dengan bando jingganya
hari ini. Menambah rasa manis pada dirinya. Nggak sedikit lho yang dia tolak.
Semua yang nembak dia, dia tolak mentah-mentah. Prinsipnya, dia suka cowok yang
layak dia panggil Romeo dihatinya. Yang tampan, tinggi, anak basket, tapi alim,
suka membaca kitab, dan juara kelas.
Kalau nanya
tentang aku? Wah, kalah telak sama Shelly deh! Bendera putih buat masalah
percantikan sama dia. Walau lebih tinggi, kulitku lebih gelap dari dia. Aku kan
punya hobi travelling naik sepeda gunung. Rambutku cuma sampai bahu saja. Nggak
pernah doyan pakai asesoris. Paling mentok, cuma kepang tengah sama jam tangan.
Itu pun nggak colorful kayak Shelly. Dia setiap hari gonta-ganti bando. Senin
merah, Selasa jingga, Rabu kuning, dan seterusnya sampai hari Minggu warna
Ungu. Mejikuhibiniu kayak pelangi. Nggak jarang juga aku menggunakan bandonya
untuk menentukan ini hari apa.
“Ki, nanti temenin
aku belanja baju lagi ya di mall. Nanti ada tontonan bagus juga, lho, Ki.
Kesukaanmu, film Perahu Kertas.” Dia ngajak aku yang lagi megang buku
matematika sambil coret-coret jawaban soal uji kompetensi yang bakal diterangin
pak Pras nanti.
“Males ah, Shel.
Besok kan ada ulangan kimia. Takut ah kalau nilaiku harus jeblok jadi 85
doang.” Aku lihat wajah manis Shelly ditekuk. Tetep aja cantik. Tapi galak.
Kayak ular cobra. Keanggunannya, mematikan. Sebenarnya sih pengin banget jalan
bareng sahabatku yang satu ini. Soalnya, kalau belanja bareng dia, bawaannya
pengin ketawa melulu. Gayanya yang polos tapi mungkin dianggap norak dikit sama
orang lain, selalu membuatku tak tahan tawa sampai esok harinya. Apalagi ada
Perahu Kertas. Woh, aslinya tergoda. Tapi, aku takut nilaiku turun.
“Bilqis, 85 itu
lumayan lho. Massa jeblok sih? Eh, iya ya. Kan kamu sekarang jadi anak OSN
Kimia. Pantes takut jatuh tenar.” Shelly masih cemberut. Aku langsung nyengir
dengan tampang bodoh.
“Hehe. Jujur, aku
nggak ada duit buat nonton aslinya, sayang. Kalau kamu mau bayarin ya ayok.
Kalau nggak bisa ya sudah.” Tambah aku nyengir, tambah dia manyun deh. Tapi
ssetelah beberapa detik, dia senyum.
“Gini aja. Aku kan
udah tau target baju apa yang mau aku sambar. Habis di mall, kita nonton bareng
film-nya di rumahku. Sambil kita belajar kimia. Plus, ajarin aku juga ya, Eki.
Kamu mau, ya!” Matanya bermain-main. Memainkan otakku agar aku mau dengan
rencananya. Tapi, dipikir-pikir, boleh juga.
Setelah kami
setuju, bel membuyarkan pembicaraan kami. Tak lama, Bu Hanum melangkah menuju
didepan kami dan mengucapkan salam seperti Selasa yang lalu. Tetapi ada yang
disamping beliau. Seorang cowok. Nampaknya anak baru yang sedari tadi ramai
jadi trending topic hari ini.
“Hari ini, kita
semua kedatangan anak baru. Nak, perkenalkan diri kamu!” Bu Hanum mengajak anak
itu perkenalan diri.
Nama anak cowok
itu Lukman. Mantan anak suatu SMA di Tangerang. Aku nggak bisa konsen yang lain
kecuali mata anak itu. Haduh, Eki, kamu kenapa? Apa yang melanda kamu ini, Eki?
Haduh.
Dia langsung
melenggang bak model di atas catwalk ke samping bangkuku. Kursinya kosong
karena di kelas kami muridnya ganjil. Yang telat yang kesepian deh. Jadi,
dimulai datangnya Lukman, nggak ada hukum yang telat yang kesepian lagi. Semua
dapat jatahnya. Itu pun kalau semua berangkat. Hehe. Pelajaran dimulai dan
kusadari Shelly curi-curi pandang ke arahku. Mungkin dia naksir Lukman.
Bel istirahat,
saatnya menuju warung ‘Pemadam Kelaparan’ milik Bu Warti. Terkenal dengan es
buah yang beda menu tiap hari. Dan gorengannya yang mantap dan murah. Aku dan
Shelly langsung tancap ke Pemadam Kelaparan.
Lukman yang nggak
tau warung dan kantin mana yang yahud disini nampak kebingungan. Makin
menampakkan mata hitamnya yang dilindungi alis tebalnya yang menarik untuk
dilihat.
“Hei, Lukman.
Bingung cari kantin?” Shelly setengah teriak untuk menyapa Lukman yang masih
dibawah pohon rambutan sekolah. Cowok yang disitu mencari-cari sumber suara
Shelly yang renyah. Shelly mengisyaratkan untuk kearah kami dan duduk.
“Iya. Aku masih
nggak tau cara anak sekolah ini makan saat istirahat.” Suara Lukman terdengar
saat dia duduk disebelahku. Membagi senyumnya pada kami. “oh, aku belum kenal
kalian. Kalian yang duduk di dekat bangku yang aku tempati tadi, kan?”
Shelly nampak
senyum-senyum nggak jelas. Haduh, aku baru melihat dia seperti ini. Aneh. “Aku
Shalima, yang ini Bilqis. Panggil aku Shelly aja. Temenku yang ini lebih sering
dipanggil Eki. Salam kenal hehe” dia nambah nyengir. Aku hanya senyum simpel
saja untuk kulayangkan ke Lukman. Takut gede rasa.
“Oh. Kamu Shelly,
dan kamu Eki. Eh, Eki yang pinter kimia itu kan? Saudaraku sering cerita-cerita
lho. Kalian kenal Bella, kan? Sabilah anak X.7 itu.”
“Lho, kamu
saudaranya Sabilah. Yang OSN biologi itu?” aku masih terkejut. Dia masih ada
ikatan darah sama Bella.
Ternyata Lukman
tak kalah asyik dengan anak-anak lain. Dia mudah bergaul aslinya, tapi dia
sedikit susah mengawali perkenalan yang tepat. Dia punya wawasan luas tentang
dunia jelajah. Dan, Lukman adalah cowok yang tepat dengan deksripsi lelaki
idaman Shelly. Lukman dulu anak basket. Tapi udah hafal al-Qur’an sampai juz 4.
Wow!
Bel jam ke 4
berbunyi. Kami bertiga menuju kelas. Melanjutkan pelajaran dengan semangat.
Tapi, ada rasa yang aneh hari ini. Aku tidak fokus ke papan tulis atau
suara-suara materi dari guru. Hanya penuh dengan sosok lelaki di sebelah
kiriku. Setan kau, Lukman!
---‘{0}’----
Capek ikut Shelly
belanja-belanja sampai jam setengah 4 dan belajar plus nonton film Perahu
Kertas sambil nyemil roti kering. Nyelonong ke dapur rumah Shelly sudah biasa
dari awal kita sahabatan. Rumahnya, rumahku. Rumahku, rumahnya juga. Ambil
makanan di kulkas tinggal buka, ambil, lari.
Sampai rumah,
Maghrib dikumandangkan. Mandi dulu baru sholat. Ngelanjutin belajar. Tapi baru
sedikit banget yang masuk diotak. Apa karena tadi nonton film sampai lama? Atau
anak baru itu? Jangan lemparkan kesalahan ini pada anak baru itu lagi. Pusing
amat deh mikirin Lukman terus.
Bunyi morse S-M-S
dari handphone Nokia seri 1200-ku menghentikanku yang sedang mengeringkan
rambut. Keramas karena dari tadi habis buka jilbab langsung gatal-gatal kepala.
Nomor asing.
Ini aku. Lukman. Maaf ga ijin minta nomer ponsel sma km lnsg
soalnya aku bth kamu skrg. Blh ga kerumahmu bljar kimia. Bsk kan ada ulhar kimia.
Sorry n thx a lot. :) from : +628123456xxxxxx
Duh. Gimana ini? Apa sendirian?
Kenapa nggak sama Bella? Kenapa kok malam-malam? Kenapa nggak tadi sore saja?
Kenapa harus.... aku? Buntu buntu buntu!!! Aku telpon saja dia biar singkat.
Lagipula operatornya sama.
“Assalamu’alaikum.”
Ucapku begitu panggilanku diangkat Lukman.
“Wa’alaikum salam,
Ki. Gimana? Maafin aku, aku lancang mencari nomor pribadimu. Tapi aku boleh
belajar sama kamu malam ini? Bella bakalan nganterin aku kok. Jadinya nggak
cuma kita berdua aja.” Syukurlah, ada Bella yang nemenin Lukman. Takut fitnah
sama kata-kata indah Mama nanti.
“Nggak apa-apa,
Man. Iya. Boleh kok. Tapi kita belajar materi ringkasnya aja. Biar cepet.
Soalnya kan aku belum tidur siang. Tadi habis jalan-jalan sama Shelly.
Assalamu’alaikum. Aku tunggu, Man!” kututup sambungan panggilan. Menuju meja
belajar. Menandai materi yang penting agar mudah untuk menjelaskan nanti ke
Lukman. Tapi, aku tetep tidak sefokus kemarin-kemarin. Ada apa denganku?
Belajar kelompok
dengan dua bersepupu ini sangat seru. Ternyata nggak kaku-kaku amat buat
belajar sama mereka. Dan Bella punya cara khusus saat belajar. Mengingat materi
dengan lagu yang dia dengar di headsetnya pada saat dia meringkas. Contoh:
kalau di headset sedang main lagu Last Friday Night-nya Katy Perry dan dia
sedang membaca hukum phytagoras dan trigonometri, yang dia ingat adalah;
‘phytagoras dan trinogometri = Last Friday Night’. Perlu dicoba?
“Makasih banyak
ya, Ki. Kapan-kapan gini juga. Kasihan Lukman. Dia tuh ga bisa betah belajar di
kamarnya sendiri. Untung aku kenal kamu, Ki.” Ucap Bella yang sedang mengenakan
helm. Lukman sudah memutar motornya keluar menuju gerbang rumah. Lukman pun
melirik sepupunya yang lucu itu. Dan memandangku, menusuk, bro!
“Aku juga pengin
gini terus. Moga bisa kayak gini lagi, ya. Sekali lagi makasih, Bilqis.” Eits,
barusan dia manggil nama asliku? Bilqis? Mereka sudah melayangkan dadah dadah
manis ke arahku. Senyum terakhir milik Lukman masih menari-nari di kelopak
mataku. Ah, Lukman. Setan, kau! Jangan jatuh cinta dengan Lukman dulu. Kita
masih anak sekolah, satu SMA kata Chrisye. Inget, Eki. JANGAN JATUH CINTA DULU!
---‘{0}’----
Hari-hari dilalui
seperti biasa. Ditambah jadwal baru. Setiap malam Rabu, Kamis, dan Sabtu, dua
sepupu datang kerumah dengan canda tawa yang membuatku semangat belajar. Tak
lupa dadah dadah manis dari Bella dan Lukman yang mampu mengantarkan tidur yang
enak. Dikasih bonus senyum juga sama anak basket baru di sekolahku itu yang
selalu membekas di pelupuk mata. Aku harap itu tak nampak. Tapi tetap
manghantui. Ah... Sampai...
“EKIII!!! Setiap
malem aku ga bisa belajar sendiri. Aku mau belajar sama kamu setiap malem ah.
Biar ketemu Lukman yang ganteng nan keren.” Mulai deh. Shelly centilnya kumat.
Aku Cuma geleng-geleng kepala saja. “Kalian kalau belajar mesti seru ya?
Berduaan mulu! Cemburu tau nggak!”
“HAAA?” ekspresi tak terduga.
Spontan ekspresi seperti ini dapat dilakukan olehku yang cuek-cuek aja
orangnya. Dan akhirnya aku nyengir bodoh. “Hayo, Shell, kamu naksir berat sama
LUKMAN AKHIR anak bakset itu kaaan???” sengaja aku teriak-teriak. Biar jadi hot
issue.
“eh, Eki.
Pelan-pelan aja deh ngomongnya. Malu ah, Ki.” Dia cemberut. Belagak malu-malu.
Kelihatan semburat merah. Merona.
“Salah sendiri
ngomong nggak jelas kayak gitu. Cemburu, cemburu, itu apaan? Aku ya belajar sama
Bella dan Lukman kok. Nggak satu lawan satu. Aku malah sering dikeroyok tuh dua
orang kalau belajar.” Jelasku yang cukup panjang untuk cewek cool nan cuek
kayak aku.
Lalu, hari-hari
berikutnya, kami belajar ber-empat. Ditambah dengan Shelly yang udah naksir
berat sama Lukman. Tapi, kenapa ada rasa yang aneh saat aku mengingat bahwa
Shelly suka dengan Lukman. Ah, kamu, Ki. Please, deh. Lukman berhak disukai
cewek model apa saja. Suka-suka orang dong suka sama orang lain.
---‘{0}’----
Aneh. Lukman mengajakku
makan di warung Pemadam Kelaparan saat bel pulang sudah puas dibunyikan. Tapi
hanya berdua. Dia nampak memesan jus alpukat untuknya dan jus jambu biji untuk
diriku. Dia sudah hafal dengan jus kesukaanku sejak 4 bulan yang lalu, saat
aku, Bella, dan dia ke rumah jus deket rumahnya Bella.
Kita bebicara
cukup hangat. Tapi aku canggung untuk memulai setiap obrolan. Dia bisa
mencairkan suasana. Sampai kami tak sadar, jus kami sudah habis. Setelah dia
mentraktirku, dia memegang tangan kananku.
“Bilqis, boleh
nggak aku ngasih ini ke kamu.” Secarik surat warna merah tua, warna kesukaanku,
diberikannya padaku. Menatapku. Masih tetap menusuk. Menakutkan!
“Enggg...
maksudnya? Aku nggak tau, Man.” Aku masih berlagak bodoh. Masih takut dengan
tatapannya. Tapi terpaksa aku ikuti tatapan matanya itu. Kereeen.
“Baca saja, Qis.
Nanti kalau kamu sempat, kamu jawab ya surat ini.” Dia menggaruk kepalanya
dengan bingung. Aku yang lihat saja juga bingung mau gimana. Aku hanya
mengangguk dan tetap dengan dadah dadah manis seperti saat belajar malam. As
always.
---‘{0}’----
Masih bingung
dengan beberapa kata dari surat Lukman. Ada kata ‘bolehkah aku punya SIM kamu?
Surat Ijin Mencintaimu?’ MAKSUDNYA APAAN, MAN? Aku memang polos. Nggak tau
apa-apa. Dimohon pembaca yang tau maksudnya, silahkan beri tau saya!
Kini surat merah
tua itu masih dimainkan ditangan-tanganku. Aku bingung dengan semua ini.
Senang, dan, takut. Mending aku pilih ‘dan’ saja daripada memilih senang atau
takut.
Kumelihat Shelly
yang sedari tadi memainkan ponselnya sambil nyengir-nyengir kuda. Curiga kalau
obatnya habis, langsung aku tanyain saja.
“Kenapa kamu,
Shell. Kayaknya seneng banget. Dapet uang belanja tambahan ya? Apa ada sms
humor lagi dari Joni yang suka nge-Joke itu?” dia melirikku dengan tampang
bodohnya yang cantik.
“Sorry, Ki. Aku
buka-buka kontak di hapemu. Kali saja aku dapet nomernya abang Lukman yang
super kece. Eh, aku boleh minta comblang nggak sama kamu? Kamu kan deket sama
dia.” Apa? Dia nyolong kontak Lukman? Ini nggak cuma horor dan komedi di dalam
surat merah tua Lukman itu. Tapi terbesit, aku tak ingin menyakiti Shalima.
Sejak saat itu.
Aku tak ingin dekat-dekat lagi dengan Lukman kecuali belajar malam dengan Bella
dan Shalima. Aku hanya ingin jarakku dan jarak Lukman lebih jauh sedikit tanpa
permusuhan. Hingga setelah Shelly pulang kerumah dan Bella sudah menunggu di
gerbang, Lukman...
“Kamu masih belum
sempat menjawab yang kemarin, Bilqis?” dia nggak lupa surat merah tua itu.
Surat itu sudah kusimpan 3 minggu lamanya. Dengan berusaha keras tuk mencari
alasan yang tepat dengan tenggorokan tercekik oleh hal yang tak nampak,
akhirnya,
“Ada alasan kenapa
aku belum sempat, Man. Maaf, ya.”
“Tapi, aku cinta
kamu, Bilqis. Kamu nggak nyadar itu?” halilintar menggelegar ditelingaku. Woi,
darimana? Ini musim kemarau!
“Ada yang lebih
menyayangimu, lebih cantik, lebih ceria daripada aku. Kau pasti tau siapa dia.
Dia lebih mencintaimu, Lukman.” Tak terasa airmataku meleleh ke pipi kananku.
Tangan Lukman menyekanya dengan lembut.
“Kau ingin aku
harus melakukan apa untuknya? Apa aku....” terpotong hadirnya Bella.
“Eki, kau
sahabatku. Tolong sepupuku ini. Please. Aku sudah mendengar semuanya kok. Tapi
kalau tidak bisa, aku minta maaf, Eki.” Bella? Kau tau?
“Lukman, aku pun
tak berani mengungkapkan perasaan itu. Aku belum siap. Maafkan aku. Bella,
mungkin belum saatnya jika sekarang. Masih ada sahabatku yang tadi sudah pulang
itu, Shelly. Dia pun menyukaimu, Man.” Lukman menyeka airmataku lagi. Tapi
dikedua pipiku.
“Jadi, apa yang
kamu mau, Bilqis. Apapun itu, asal aku mendapat SIM kamu itu.” Lukman
memandangku dengan tatapan lebih tajam. Menusukku, dan jauh mengerikan!
“Kau bisa
menundanya? Untukku?” aku mencoba memejamkan mata agar tidak terjebak dengan
tatapannya yang horor itu. Bella hanya bisa menghela nafasnya.
“Untukmu. Apapun.
Aku cinta kamu, Bilqis.” Menyeka airmataku lagi. Dan tangannya memegang bahuku.
Untung saja, Mama dan Papa ada tugas di luar kota. Jadi nggak ada orang rumah
yang tau soal ini.
Kami dadah dadah
manis, teramat manis dibandingkan yang lalu.
---‘{0}’----
“AKHIRNYA AKU
JADIAN SAMA LUKMAN, EKI!!!” senyum cantik Shelly nampak lebih sempurna dari
kemarin-kemarin. Aku senang melihatnya seperti itu. Walau cukup cemburu dan
sakit. “nanti aku traktir makan bakso urat deh!” dia nampak semangat. Aku
senang. Aku hanya mengangguk-angguk.
“langgeng, ya,
Shell. Wish you all the best.” Senyumku yang cuek membuatnya melebarkan
senyumnya. Hari-hariku dan hari-harinya menjadi lebih berwarna dan semangat
belajar. Aku tak perlu lagi salah tingkah saat pelajaran. Dia pun tak perlu
lagi menatap Lukman dengan penuh harap-harap cemas. Tetapi, beda dengan Lukman.
Sampai rumah, aku
mengotak-atik ponselku. Morse S-M-S mengagetkanku.
Aku harap, ini bukan cinta yang dibatalkan. Namun hanya
tertunda. Semoga Allah memberi waktu yang tepat tuk kita. I love you, Bilqis.
Forever . :)
from : [Lukman]