Senin, 02 September 2013

Karena niatnya mau belajar geografi bareng dan besoknya mau ulangan, aku tutup sidang dulu masalah elang yang terbang itu. Bisa-bisa nilai geografi jadi tiarap gegara mikirin kata-kata ngambang tadi. Just forget about this conversation until the test ends successfully, La!
Dan setibanya Bara dan Teratai membuat belajar kali ini lebih hangat dibandingkan tanpa mereka. Ditambah pesanan pecel yang 15 menit kutunggu membuatku bisa kabur dari perasaan dingin tadi. Dasar Awan sarap. -___-
Di antara aku, Awan, Teratai, sama Bara, cuma aku yang gak pernah ikut lomba akademik. Puisinya, cuma aku yang gak pernah mengepakkan sayap seperti yang diucapkan Awan. Eh, apa?
Oke, berarti mulai saat ini, aku harus lebih pintar dari mereka. Minimal sejajar! Ayo konsen belajar!
Terus, sebulan kemudian, aku ikut lomba kesenian, ikut OOSN. Karena bakat nyanyi yang cukup, aku cari sayap lewat ini.
Tapi, entah kenapa Awan masih naksir Teratai. Ah, aku belum move.
4 bulan mendemin rasa itu sakit. Walaupun dia mind-reader, aku ngerasa belum teriakin cinta ke Awan. Jika begitu ceritanya,WHERE'S MY WINGS?

[this story will be end(less)]
(not my true story)

Posted on 18.33 by Unknown

No comments

Minggu, 01 September 2013

Aku tuh naksir sama orang. Bisa di sebut Awan. Dia itu filosofer kayak aku #eeaaa! SERASI GAK? :v kan sama-sama filosofer-nya? :D *I hope so.*
Walaupun dia polos, cengeng, emosinya mudah terombang ambing oleh angin, dia itu sebenernya MIND-READER! :(( Untungnya, aku punya darah teater yang bisa berubah wajah *ngeri!* :v
Dan parahnya, dia udah naksir sama orang lain, namanya Teratai. *Walaupun Teratai gak ngasih kode. Hihihi* -___-
Suatu hari, pas kita belajar bareng, Awan curhat sama aku.
"La, sebenernya kamu tahu gak?" tanya Awan sambil ngeluarin buku catatannya.
"Apaan, Wan?"
"Arti Aquila." Wajah datar yang selalu jadi mimpi siang yang buruk dan mimpi malam yang indah menatapku.
"Eh, itu. Tahu lah. Aquila itu bahasa Spanyol dari burung elang. Kenapa?" Anak teater bisa dong pasang wajah biasa walaupun dalam masa batin kepepet. ^_^
"Entah kenapa, aku suka kalau lihat burung elang lagi terbang. Rasanya kayak jatuh cinta sama Teratai." Oke. Namaku artinya elang, dia bilang suka elang. Jangan-jangan ini kode kalau dia suka sama aku. Dug-dug jantungku. *Pasang wajah yang lain.* Ketawa biar gak kelihatan deg-deg an.
"Hahaha... Ati-ati. Burung elang nya ada disini." semakin tertawa, makin kelihatan bingung ini wajah. Duh.
"Hahaha... Kalo kamu terbang. Mungkin aku bisa lupain Teratai."
Dalam hati gue: Duh, ini nih kode yang nggak enak pake banget. OKAY, CHALLENGE ACCEPTED!

-not my true story-

Posted on 08.25 by Unknown

No comments


Kemarin liburan, gue terbang ke rumah. Habis itu nongkrong ke sawah bareng padi, ilalang, burung gereja, sama temen-temen lain. Ini 2 jepretan mata Aquila. Besok kalo punya uang mau njepret pake DSLR hohooo... *bayangkan Elang mbawa DSLR!* Jelek kaannn??? u,u
Ini sepeda pak tani :v
Ini sunrise di sawah :*

Posted on 05.21 by Unknown

No comments

INI CERPEN PERTAMA GUE WAKTU MASUK SMA (yang sukses hehehe). CERITANYA HAMPIR SAMA DENGAN KISAH NYATA GUE SAMA SAHABAT GUE hahaha #sarcasm. Makasih ^_^         

          Kelas masih ribut karena belum ada bel masuk. Lagi pula jam dinding belum ada pukul 7 tepat. Jam tangan digitalku masih nunjukin pukul 06.54. Biasanya jam tanganku ini lebih cepat 3 menit dari jam dinding sekolah. Kira-kira masih pukul 7 kurang sembilan menitan lah.
          Hari ini masih seperti hari biasanya. Duduk sama sahabatku dari bangku SD. Shalima namanya. Tapi aku lebih suka manggil dia Shelly. Dia cantik, lebih pendek 5 cm dariku, tubuhnya ramping dan rambutnya panjang. Apalagi ditambah dengan bando jingganya hari ini. Menambah rasa manis pada dirinya. Nggak sedikit lho yang dia tolak. Semua yang nembak dia, dia tolak mentah-mentah. Prinsipnya, dia suka cowok yang layak dia panggil Romeo dihatinya. Yang tampan, tinggi, anak basket, tapi alim, suka membaca kitab, dan juara kelas.
          Kalau nanya tentang aku? Wah, kalah telak sama Shelly deh! Bendera putih buat masalah percantikan sama dia. Walau lebih tinggi, kulitku lebih gelap dari dia. Aku kan punya hobi travelling naik sepeda gunung. Rambutku cuma sampai bahu saja. Nggak pernah doyan pakai asesoris. Paling mentok, cuma kepang tengah sama jam tangan. Itu pun nggak colorful kayak Shelly. Dia setiap hari gonta-ganti bando. Senin merah, Selasa jingga, Rabu kuning, dan seterusnya sampai hari Minggu warna Ungu. Mejikuhibiniu kayak pelangi. Nggak jarang juga aku menggunakan bandonya untuk menentukan ini hari apa.
          “Ki, nanti temenin aku belanja baju lagi ya di mall. Nanti ada tontonan bagus juga, lho, Ki. Kesukaanmu, film Perahu Kertas.” Dia ngajak aku yang lagi megang buku matematika sambil coret-coret jawaban soal uji kompetensi yang bakal diterangin pak Pras nanti.
          “Males ah, Shel. Besok kan ada ulangan kimia. Takut ah kalau nilaiku harus jeblok jadi 85 doang.” Aku lihat wajah manis Shelly ditekuk. Tetep aja cantik. Tapi galak. Kayak ular cobra. Keanggunannya, mematikan. Sebenarnya sih pengin banget jalan bareng sahabatku yang satu ini. Soalnya, kalau belanja bareng dia, bawaannya pengin ketawa melulu. Gayanya yang polos tapi mungkin dianggap norak dikit sama orang lain, selalu membuatku tak tahan tawa sampai esok harinya. Apalagi ada Perahu Kertas. Woh, aslinya tergoda. Tapi, aku takut nilaiku turun.
          “Bilqis, 85 itu lumayan lho. Massa jeblok sih? Eh, iya ya. Kan kamu sekarang jadi anak OSN Kimia. Pantes takut jatuh tenar.” Shelly masih cemberut. Aku langsung nyengir dengan tampang bodoh.
          “Hehe. Jujur, aku nggak ada duit buat nonton aslinya, sayang. Kalau kamu mau bayarin ya ayok. Kalau nggak bisa ya sudah.” Tambah aku nyengir, tambah dia manyun deh. Tapi ssetelah beberapa detik, dia senyum.
          “Gini aja. Aku kan udah tau target baju apa yang mau aku sambar. Habis di mall, kita nonton bareng film-nya di rumahku. Sambil kita belajar kimia. Plus, ajarin aku juga ya, Eki. Kamu mau, ya!” Matanya bermain-main. Memainkan otakku agar aku mau dengan rencananya. Tapi, dipikir-pikir, boleh juga.
          Setelah kami setuju, bel membuyarkan pembicaraan kami. Tak lama, Bu Hanum melangkah menuju didepan kami dan mengucapkan salam seperti Selasa yang lalu. Tetapi ada yang disamping beliau. Seorang cowok. Nampaknya anak baru yang sedari tadi ramai jadi trending topic hari ini.
          “Hari ini, kita semua kedatangan anak baru. Nak, perkenalkan diri kamu!” Bu Hanum mengajak anak itu perkenalan diri.
          Nama anak cowok itu Lukman. Mantan anak suatu SMA di Tangerang. Aku nggak bisa konsen yang lain kecuali mata anak itu. Haduh, Eki, kamu kenapa? Apa yang melanda kamu ini, Eki? Haduh.
          Dia langsung melenggang bak model di atas catwalk ke samping bangkuku. Kursinya kosong karena di kelas kami muridnya ganjil. Yang telat yang kesepian deh. Jadi, dimulai datangnya Lukman, nggak ada hukum yang telat yang kesepian lagi. Semua dapat jatahnya. Itu pun kalau semua berangkat. Hehe. Pelajaran dimulai dan kusadari Shelly curi-curi pandang ke arahku. Mungkin dia naksir Lukman.
          Bel istirahat, saatnya menuju warung ‘Pemadam Kelaparan’ milik Bu Warti. Terkenal dengan es buah yang beda menu tiap hari. Dan gorengannya yang mantap dan murah. Aku dan Shelly langsung tancap ke Pemadam Kelaparan.
          Lukman yang nggak tau warung dan kantin mana yang yahud disini nampak kebingungan. Makin menampakkan mata hitamnya yang dilindungi alis tebalnya yang menarik untuk dilihat.
          “Hei, Lukman. Bingung cari kantin?” Shelly setengah teriak untuk menyapa Lukman yang masih dibawah pohon rambutan sekolah. Cowok yang disitu mencari-cari sumber suara Shelly yang renyah. Shelly mengisyaratkan untuk kearah kami dan duduk.
          “Iya. Aku masih nggak tau cara anak sekolah ini makan saat istirahat.” Suara Lukman terdengar saat dia duduk disebelahku. Membagi senyumnya pada kami. “oh, aku belum kenal kalian. Kalian yang duduk di dekat bangku yang aku tempati tadi, kan?”
          Shelly nampak senyum-senyum nggak jelas. Haduh, aku baru melihat dia seperti ini. Aneh. “Aku Shalima, yang ini Bilqis. Panggil aku Shelly aja. Temenku yang ini lebih sering dipanggil Eki. Salam kenal hehe” dia nambah nyengir. Aku hanya senyum simpel saja untuk kulayangkan ke Lukman. Takut gede rasa.
          “Oh. Kamu Shelly, dan kamu Eki. Eh, Eki yang pinter kimia itu kan? Saudaraku sering cerita-cerita lho. Kalian kenal Bella, kan? Sabilah anak X.7 itu.”
          “Lho, kamu saudaranya Sabilah. Yang OSN biologi itu?” aku masih terkejut. Dia masih ada ikatan darah sama Bella.
          Ternyata Lukman tak kalah asyik dengan anak-anak lain. Dia mudah bergaul aslinya, tapi dia sedikit susah mengawali perkenalan yang tepat. Dia punya wawasan luas tentang dunia jelajah. Dan, Lukman adalah cowok yang tepat dengan deksripsi lelaki idaman Shelly. Lukman dulu anak basket. Tapi udah hafal al-Qur’an sampai juz 4. Wow!
          Bel jam ke 4 berbunyi. Kami bertiga menuju kelas. Melanjutkan pelajaran dengan semangat. Tapi, ada rasa yang aneh hari ini. Aku tidak fokus ke papan tulis atau suara-suara materi dari guru. Hanya penuh dengan sosok lelaki di sebelah kiriku. Setan kau, Lukman!
---‘{0}’----
          Capek ikut Shelly belanja-belanja sampai jam setengah 4 dan belajar plus nonton film Perahu Kertas sambil nyemil roti kering. Nyelonong ke dapur rumah Shelly sudah biasa dari awal kita sahabatan. Rumahnya, rumahku. Rumahku, rumahnya juga. Ambil makanan di kulkas tinggal buka, ambil, lari.


          Sampai rumah, Maghrib dikumandangkan. Mandi dulu baru sholat. Ngelanjutin belajar. Tapi baru sedikit banget yang masuk diotak. Apa karena tadi nonton film sampai lama? Atau anak baru itu? Jangan lemparkan kesalahan ini pada anak baru itu lagi. Pusing amat deh mikirin Lukman terus.
          Bunyi morse S-M-S dari handphone Nokia seri 1200-ku menghentikanku yang sedang mengeringkan rambut. Keramas karena dari tadi habis buka jilbab langsung gatal-gatal kepala. Nomor asing.
Ini aku. Lukman. Maaf ga ijin minta nomer ponsel sma km lnsg soalnya aku bth kamu skrg. Blh ga kerumahmu bljar kimia. Bsk kan ada ulhar kimia. Sorry n thx a lot. :) from : +628123456xxxxxx
Duh. Gimana ini? Apa sendirian? Kenapa nggak sama Bella? Kenapa kok malam-malam? Kenapa nggak tadi sore saja? Kenapa harus.... aku? Buntu buntu buntu!!! Aku telpon saja dia biar singkat. Lagipula operatornya sama.
          “Assalamu’alaikum.” Ucapku begitu panggilanku diangkat Lukman.
          “Wa’alaikum salam, Ki. Gimana? Maafin aku, aku lancang mencari nomor pribadimu. Tapi aku boleh belajar sama kamu malam ini? Bella bakalan nganterin aku kok. Jadinya nggak cuma kita berdua aja.” Syukurlah, ada Bella yang nemenin Lukman. Takut fitnah sama kata-kata indah Mama nanti.
          “Nggak apa-apa, Man. Iya. Boleh kok. Tapi kita belajar materi ringkasnya aja. Biar cepet. Soalnya kan aku belum tidur siang. Tadi habis jalan-jalan sama Shelly. Assalamu’alaikum. Aku tunggu, Man!” kututup sambungan panggilan. Menuju meja belajar. Menandai materi yang penting agar mudah untuk menjelaskan nanti ke Lukman. Tapi, aku tetep tidak sefokus kemarin-kemarin. Ada apa denganku?
          Belajar kelompok dengan dua bersepupu ini sangat seru. Ternyata nggak kaku-kaku amat buat belajar sama mereka. Dan Bella punya cara khusus saat belajar. Mengingat materi dengan lagu yang dia dengar di headsetnya pada saat dia meringkas. Contoh: kalau di headset sedang main lagu Last Friday Night-nya Katy Perry dan dia sedang membaca hukum phytagoras dan trigonometri, yang dia ingat adalah; ‘phytagoras dan trinogometri = Last Friday Night’. Perlu dicoba?
          “Makasih banyak ya, Ki. Kapan-kapan gini juga. Kasihan Lukman. Dia tuh ga bisa betah belajar di kamarnya sendiri. Untung aku kenal kamu, Ki.” Ucap Bella yang sedang mengenakan helm. Lukman sudah memutar motornya keluar menuju gerbang rumah. Lukman pun melirik sepupunya yang lucu itu. Dan memandangku, menusuk, bro!
          “Aku juga pengin gini terus. Moga bisa kayak gini lagi, ya. Sekali lagi makasih, Bilqis.” Eits, barusan dia manggil nama asliku? Bilqis? Mereka sudah melayangkan dadah dadah manis ke arahku. Senyum terakhir milik Lukman masih menari-nari di kelopak mataku. Ah, Lukman. Setan, kau! Jangan jatuh cinta dengan Lukman dulu. Kita masih anak sekolah, satu SMA kata Chrisye. Inget, Eki. JANGAN JATUH CINTA DULU!
---‘{0}’----
          Hari-hari dilalui seperti biasa. Ditambah jadwal baru. Setiap malam Rabu, Kamis, dan Sabtu, dua sepupu datang kerumah dengan canda tawa yang membuatku semangat belajar. Tak lupa dadah dadah manis dari Bella dan Lukman yang mampu mengantarkan tidur yang enak. Dikasih bonus senyum juga sama anak basket baru di sekolahku itu yang selalu membekas di pelupuk mata. Aku harap itu tak nampak. Tapi tetap manghantui. Ah... Sampai...
          “EKIII!!! Setiap malem aku ga bisa belajar sendiri. Aku mau belajar sama kamu setiap malem ah. Biar ketemu Lukman yang ganteng nan keren.” Mulai deh. Shelly centilnya kumat. Aku Cuma geleng-geleng kepala saja. “Kalian kalau belajar mesti seru ya? Berduaan mulu! Cemburu tau nggak!”
          “HAAA?” ekspresi tak terduga. Spontan ekspresi seperti ini dapat dilakukan olehku yang cuek-cuek aja orangnya. Dan akhirnya aku nyengir bodoh. “Hayo, Shell, kamu naksir berat sama LUKMAN AKHIR anak bakset itu kaaan???” sengaja aku teriak-teriak. Biar jadi hot issue.
          “eh, Eki. Pelan-pelan aja deh ngomongnya. Malu ah, Ki.” Dia cemberut. Belagak malu-malu. Kelihatan semburat merah. Merona.
          “Salah sendiri ngomong nggak jelas kayak gitu. Cemburu, cemburu, itu apaan? Aku ya belajar sama Bella dan Lukman kok. Nggak satu lawan satu. Aku malah sering dikeroyok tuh dua orang kalau belajar.” Jelasku yang cukup panjang untuk cewek cool nan cuek kayak aku.
          Lalu, hari-hari berikutnya, kami belajar ber-empat. Ditambah dengan Shelly yang udah naksir berat sama Lukman. Tapi, kenapa ada rasa yang aneh saat aku mengingat bahwa Shelly suka dengan Lukman. Ah, kamu, Ki. Please, deh. Lukman berhak disukai cewek model apa saja. Suka-suka orang dong suka sama orang lain.
---‘{0}’----
          Aneh. Lukman mengajakku makan di warung Pemadam Kelaparan saat bel pulang sudah puas dibunyikan. Tapi hanya berdua. Dia nampak memesan jus alpukat untuknya dan jus jambu biji untuk diriku. Dia sudah hafal dengan jus kesukaanku sejak 4 bulan yang lalu, saat aku, Bella, dan dia ke rumah jus deket rumahnya Bella.
          Kita bebicara cukup hangat. Tapi aku canggung untuk memulai setiap obrolan. Dia bisa mencairkan suasana. Sampai kami tak sadar, jus kami sudah habis. Setelah dia mentraktirku, dia memegang tangan kananku.
          “Bilqis, boleh nggak aku ngasih ini ke kamu.” Secarik surat warna merah tua, warna kesukaanku, diberikannya padaku. Menatapku. Masih tetap menusuk. Menakutkan!
          “Enggg... maksudnya? Aku nggak tau, Man.” Aku masih berlagak bodoh. Masih takut dengan tatapannya. Tapi terpaksa aku ikuti tatapan matanya itu. Kereeen.
          “Baca saja, Qis. Nanti kalau kamu sempat, kamu jawab ya surat ini.” Dia menggaruk kepalanya dengan bingung. Aku yang lihat saja juga bingung mau gimana. Aku hanya mengangguk dan tetap dengan dadah dadah manis seperti saat belajar malam. As always.
---‘{0}’----
          Masih bingung dengan beberapa kata dari surat Lukman. Ada kata ‘bolehkah aku punya SIM kamu? Surat Ijin Mencintaimu?’ MAKSUDNYA APAAN, MAN? Aku memang polos. Nggak tau apa-apa. Dimohon pembaca yang tau maksudnya, silahkan beri tau saya!
          Kini surat merah tua itu masih dimainkan ditangan-tanganku. Aku bingung dengan semua ini. Senang, dan, takut. Mending aku pilih ‘dan’ saja daripada memilih senang atau takut.
          Kumelihat Shelly yang sedari tadi memainkan ponselnya sambil nyengir-nyengir kuda. Curiga kalau obatnya habis, langsung aku tanyain saja.
          “Kenapa kamu, Shell. Kayaknya seneng banget. Dapet uang belanja tambahan ya? Apa ada sms humor lagi dari Joni yang suka nge-Joke itu?” dia melirikku dengan tampang bodohnya yang cantik.
          “Sorry, Ki. Aku buka-buka kontak di hapemu. Kali saja aku dapet nomernya abang Lukman yang super kece. Eh, aku boleh minta comblang nggak sama kamu? Kamu kan deket sama dia.” Apa? Dia nyolong kontak Lukman? Ini nggak cuma horor dan komedi di dalam surat merah tua Lukman itu. Tapi terbesit, aku tak ingin menyakiti Shalima.
          Sejak saat itu. Aku tak ingin dekat-dekat lagi dengan Lukman kecuali belajar malam dengan Bella dan Shalima. Aku hanya ingin jarakku dan jarak Lukman lebih jauh sedikit tanpa permusuhan. Hingga setelah Shelly pulang kerumah dan Bella sudah menunggu di gerbang, Lukman...
          “Kamu masih belum sempat menjawab yang kemarin, Bilqis?” dia nggak lupa surat merah tua itu. Surat itu sudah kusimpan 3 minggu lamanya. Dengan berusaha keras tuk mencari alasan yang tepat dengan tenggorokan tercekik oleh hal yang tak nampak, akhirnya,
          “Ada alasan kenapa aku belum sempat, Man. Maaf, ya.”
          “Tapi, aku cinta kamu, Bilqis. Kamu nggak nyadar itu?” halilintar menggelegar ditelingaku. Woi, darimana? Ini musim kemarau!
          “Ada yang lebih menyayangimu, lebih cantik, lebih ceria daripada aku. Kau pasti tau siapa dia. Dia lebih mencintaimu, Lukman.” Tak terasa airmataku meleleh ke pipi kananku. Tangan Lukman menyekanya dengan lembut.
          “Kau ingin aku harus melakukan apa untuknya? Apa aku....” terpotong hadirnya Bella.
          “Eki, kau sahabatku. Tolong sepupuku ini. Please. Aku sudah mendengar semuanya kok. Tapi kalau tidak bisa, aku minta maaf, Eki.” Bella? Kau tau?
          “Lukman, aku pun tak berani mengungkapkan perasaan itu. Aku belum siap. Maafkan aku. Bella, mungkin belum saatnya jika sekarang. Masih ada sahabatku yang tadi sudah pulang itu, Shelly. Dia pun menyukaimu, Man.” Lukman menyeka airmataku lagi. Tapi dikedua pipiku.
          “Jadi, apa yang kamu mau, Bilqis. Apapun itu, asal aku mendapat SIM kamu itu.” Lukman memandangku dengan tatapan lebih tajam. Menusukku, dan jauh mengerikan!
          “Kau bisa menundanya? Untukku?” aku mencoba memejamkan mata agar tidak terjebak dengan tatapannya yang horor itu. Bella hanya bisa menghela nafasnya.
          “Untukmu. Apapun. Aku cinta kamu, Bilqis.” Menyeka airmataku lagi. Dan tangannya memegang bahuku. Untung saja, Mama dan Papa ada tugas di luar kota. Jadi nggak ada orang rumah yang tau soal ini.
          Kami dadah dadah manis, teramat manis dibandingkan yang lalu.
---‘{0}’----
          “AKHIRNYA AKU JADIAN SAMA LUKMAN, EKI!!!” senyum cantik Shelly nampak lebih sempurna dari kemarin-kemarin. Aku senang melihatnya seperti itu. Walau cukup cemburu dan sakit. “nanti aku traktir makan bakso urat deh!” dia nampak semangat. Aku senang. Aku hanya mengangguk-angguk.
          “langgeng, ya, Shell. Wish you all the best.” Senyumku yang cuek membuatnya melebarkan senyumnya. Hari-hariku dan hari-harinya menjadi lebih berwarna dan semangat belajar. Aku tak perlu lagi salah tingkah saat pelajaran. Dia pun tak perlu lagi menatap Lukman dengan penuh harap-harap cemas. Tetapi, beda dengan Lukman. 
          Sampai rumah, aku mengotak-atik ponselku. Morse S-M-S mengagetkanku.
Aku harap, ini bukan cinta yang dibatalkan. Namun hanya tertunda. Semoga Allah memberi waktu yang tepat tuk kita. I love you, Bilqis. Forever . :) from : [Lukman]

Posted on 03.39 by Unknown

No comments

Namaku Elang Riyadi. Panggil saja Elang. Aku baru 14, jalan ke 15 tahun. Baru kelas 2 SMA, jurusan IPA, di SMA daerah Jawa Tengah. Ingat, nama Elang cuma samaran. ^_^
Ini awal September ya? Kalo di lagunya Greenday, Wake Me Up When September End, aku kayak pengen tidur aja. Terus bangun di tanggal satu Oktober -___-*
Jomblo akut, simpel, mencoba dewasa. Sorry ya kalau sayatan gue bener-bener nyayat. :D
Sarkastik, sekarang aku jadi sarkastik semenjak SMA. Entah kenapa jadi gini?
Udahan dulu, ya. Keep health and sarcasm! But, don't forget get prayer! :)

Elang Riyadi

Posted on 03.18 by Unknown

No comments

Selalu, yang kuat kan bertahan. Yang kalah berantakan. Entah aku tak tau mengapa ayahku bisa ditahan di balik besi vertikal dan disitu pula tempatnya kumuh dan tak terurus? Dasar bodohnya ayah! Terlalu lemah didepan raksasa. Walaupun kita merdeka sudah kepala enam, tetap saja kerikil kecil diinjak dan semakin kecil, lalu hancur.
Entah pula kenapa masih ada maling teriak maling? Dari telinga kemulut, mulut ke telinga yang lan, ada suara jika ayah dipenjara karena fitnah. Aku tak tahu pula ayah difitnah apa. Tapi, aku hanya melihat, masih ada penjajah disaat merdeka? Ah, Indonesia.
Sudah berbulan-bulan yang lalu mulai kurajut impianku di sekolah yang lama. Aku ingin mengibarkan bendera Indonesia di lapangan kabupaten. Karena harta ayah tak bersisa, ibu dan aku berpindah ke desa ibu saat kecil. Sialnya, aku pun meninggalkan impian. Alhasil, Paskibra hanya dongeng untukku. Dan aku benci negara yang hanya milik raksasa ber-uang iini.
Di surau, masih sepi. Belum ada jamaah sholat Jum’at.
Besok, akan ada keramaian di negeri ini. Semua akan bicara sejarah proklamasi. Aku menyebutnya Nasionalisme Musiman. Kebanyakan teman-teman baruku juga tak hafal lagu suci negeri ini. Jangan ditanya wawasan dangdut koplo, nama-nama biduan dan grup-nya aja, sudah khatam!
Nampaknya, negeri ini akan dijual! Entah dijual kepada Korea yang penuh wajah plastik yang mewarnai atau Amerika dengan pemudanya yang liar. Mending jual aja ke Inggris. Biar makmur seperti Malaysia atau Singapura!
“Taka, kamu nggak tertarik dengan 17-an besok Sabtu?...” Tomo yang aku kenal pertama kali di desa ini dan menjadi teman sebangku-ku. Dia punya (bekas) mimpi sepertiku, menjadi pengibar sang saka merah putih saat hari (belum) merdeka Indonesia. “Udahlah, kalo mimpi udah gak bakal jadi kenyataan, cari cara lain buat merayakan kemerdekaan ‘semu’ negara kita ini.”
“Mau ngapain? Aku masih bosan dengan kerakusan maling yang udah menjara ayah. Persetan! Hukum bisa dimiringin pake duit disini. Gak cuma miring lagi, tiarap!” Tangan kiri Tomo melayang cukup keras dan hangat ke punggungku yang bungkuk.
“Persetan dengan penjajah negeri versi jaman sekarang. Kita tetep menjunjung negeri ini. Ada harapan buat perbaiki negeri ini. Ayo semangat! Kamu bungkuk melulu nanti kayak mbah Juju hahaha.” Tomo setengah terbahak-bahak saat membicarakan mbah bungkuk, mbah Juju. Aku langsung mendorong jidat Tomo yang nonong itu kebelakang.
“Heh, orang tua itu.” Kita cabut masuk surau. Kuperbaiki sarung dan peci seraya qiro’ Al-Qur’an suara CD terdengar seluruh Dusun.
Pagi yang malas. Aku mengambil bendera merah putih di dalam lemari baju paling bawah. Walaupun masih cerah, di mataku ini terlihat lusuh terlunturkan oleh carut-marut hukumnya. Ini 17 Agustus pertama tanpa ayah di rumah. Ibu sedang memasak sekadarnya. Tak semewah dulu, roti yang berselimut selai stroberi dan sebagian susu vanila. Terlihat seperti bendera merah putih yang akan kumakan dan diolah menjadi darah yang mengalir di tubuhku. Nasionalisme yang sederhana. Aku merindukannya. Tapi rasanya takkan lagi aku bisa makan roti merah putih sekarang.
“Nak, alhamdulillah. Ibu tadi masak nasi sama telur goreng. Eh iya. Sama sambal terasi kesukaanmu. Habis kamu memasang bendera langsung mandi, terus makan...” Ibu mengusap peluhnya dari kulit wajahnya yang terlihat berlipat-lipat sejak ayah di balik jeruji milik ‘hukum tiarap’ disana. “Kemarin, ayah ngasih salam ke kamu, Nak.” Senyum berkerut itu mencerahkan wajah indahnya.
“Iya, Bu. Terimakasih. Taka keluar dulu ya, Bu.” Kuberikan senyum sebisaku. Karena aku benci hari ini, dan datang juga. Kuambil bambu sedang yang kemarin aku dan Tomo dapat setelah sholat Jum’at.
Ku ikat tali yang ada di bendera ke bambu yang rebah di jepitan kedua kakiku. Kuusahakan bendera ini tak menyentuh tanah sedikit pun. Kuusahakan bendera ini tak serendah penguasa busuknya.
Ku berdirikan dekat pagar kayu depan rumah. Menalikan bambu dengan pagar ini cukup makan emosi. Saat bendera sudah bisa tidak jatuh tanpa peganganku, ku berikan hormat dan nyanyian suci negeri ini, Indonesia Raya.
Keluar dari kamar untuk memakai baju sekolah. Duduk di meja makan, kubuka tudung saji. Ada satu telur mata sapi dan nasi. Dan ada yang menarik buatku sejak aku dan ibuku pindah kesini, sambal terasi. Hanya satu telur? Ibu makan pakai lauk apa kalau aku makan telur ini? Aku beranjak ke belakang rumah. Ibu sedang menjemur baju.
“Ibu, ibu sudah makan?” aku memastikan jika Ibu belum makan, aku akan makan nasi dan sambal saja. Kasihan Ibu pasti lelah. Dia lebih butuh energi daripada aku yang hanya berdiam tanpa semangat untuk melihat ‘Nasionalisme Musiman’ hari ini. Ibu menoleh, mengusap peluhnya yang ada didahi itu. Tersenyum.
“Kamu duluan aja, Nak. Ibu nanti saja kalau sudah selesai njemur. Cepetan nanti kamu terlambat.” Aku hanya mengangguk. Kembali ke meja makan. Piring ku isi dengan nasi, sambal kutuang dua sendok diatasnya.
Tiba-tiba aku ingat roti merah putih! Aku aduk setengah nasi yang ada di piringku dan kucampur dengan sambal terasi ini. Kubuat persegi panjang seperti bendera negeri ini. Aku tersenyum. Aku kira aku takkan bisa memakan makanan merah putih yang akan menjadi darahku.
Aku belum mau makan nasi sederhana dan indah ini. Sampai ternyata bahuku disentuh tangan Ibu yang dingin karena air cucian baju.
“Akhirnya Ibu melihat nasionalisme kamu yang dulu sudah kembali lagi. Ibu malah jadi pengen roti selai stroberi sama susu vanila kayak dulu.” Aku berdiri dan memeluk Ibu.
“Selamat hari kemerdekaan, Bu. Aku harap ayah cepat merdeka dari jajahan hukum.”
“Amin. Kok kamu enggak makan telurnya, Nak?”
“Ibu, Ibu kan lebih capek. Lagipula telur cuma punya warna putih dan kuning. Gak ada merahnya. Jadi, Ibu yang makan telurnya. Oke?”
Selamat hari kemerdekaan Indonesia ke-68. Carilah caramu menselebrasikan kemerdekaan ini. Sebisa dan seindah yang kamu mau. Jagalah rasa nasionalisme setiap hari. Bukan hanya ditanggal 17 Agustus. Jaga negara ini dari penjajah versi masa kini. Jaga negara ini, jangan sampai ‘dijual’ oleh negara adikuasa.

Baiklah, aku akan memakan sambal merah dan nasi putih ini. Aku akan memakan kemerdekaanku sebelum dimakan penjajah lagi!

Posted on 03.11 by Unknown

No comments